Perbandingan Metode Uji Kekerasan Portable: Leeb vs Ultrasonik

Peralatan uji kekerasan portable metode Leeb dan Ultrasonik di area industri luar ruangan

Dalam inspeksi material di lapangan, teknisi Quality Control (QC) dan insinyur sering dihadapkan pada dilema penting: metode uji kekerasan portable mana yang harus dipilih — Leeb (rebound) atau ultrasonik (UCI)? Pemilihan yang tepat tidak hanya menentukan akurasi hasil, tetapi juga efisiensi biaya, kepatuhan terhadap standar, dan kepercayaan data yang dihasilkan. Artikel ini menyajikan perbandingan komprehensif berbasis data teknis, standar resmi, dan studi kasus nyata untuk membantu Anda membuat keputusan yang tepat dalam setiap aplikasi inspeksi lapangan.

  1. Apa Itu Metode Uji Kekerasan Portable?
  2. Prinsip Kerja Metode Rebound (Leeb)

    1. Perangkat Impact dan Skala Kekerasan Leeb (HLD, HLS, HLE, dll.)
    2. Persyaratan Benda Uji dan Persiapan Permukaan
  3. Prinsip Kerja Metode Ultrasonik (UCI)

    1. Keunggulan UCI untuk Material Tipis dan Kompleks
  4. Perbandingan Langsung: Leeb vs UCI
  5. Kriteria Pemilihan Metode Berdasarkan Karakteristik Objek Uji

    1. Kapan Memilih Metode Leeb?
    2. Kapan Memilih Metode UCI?
  6. Studi Kasus: Pemilihan Metode untuk Inspeksi Lapangan

    1. Studi Kasus 1: Inspeksi Las pada Konstruksi Baja Berat
    2. Studi Kasus 2: Inspeksi Komponen Tipis (Pelat Aluminium 2 mm)
  7. Mengatasi Tantangan Umum: Akurasi, Kalibrasi, dan Standar

    1. Solusi Kalibrasi Multi-Point untuk Meningkatkan Akurasi
  8. Panduan Memilih Alat Uji Kekerasan Portable
  9. Kesimpulan
  10. Referensi dan Sumber

Apa Itu Metode Uji Kekerasan Portable?

Uji kekerasan portable adalah metode pengujian non-destruktif yang memungkinkan pengukuran kekerasan material langsung di lapangan tanpa harus memotong atau membawa sampel ke laboratorium. Dua metode utama yang mendominasi aplikasi industri adalah metode rebound (Leeb) dan metode ultrasonik (UCI — Ultrasonic Contact Impedance). Keduanya menawarkan portabilitas tinggi, namun memiliki prinsip kerja, persyaratan benda uji, dan area aplikasi yang sangat berbeda.

Metode Leeb dikembangkan pertama kali pada tahun 1975 oleh Leeb dan Brandestini di Proceq SA, Swiss, sebagai alternatif portabel untuk alat uji kekerasan laboratorium yang besar dan mahal [1]. Metode ini kemudian diadopsi sebagai standar internasional melalui ASTM A956 dan SNI 8461:2017 di Indonesia [2]. Sementara itu, metode UCI hadir sebagai solusi untuk material tipis dan kecil yang tidak dapat diuji dengan metode rebound, dengan standar yang diatur dalam ASTM A1038 dan DIN 50159 [1][4].

Kedua metode ini memiliki keunggulan dan keterbatasan masing-masing. Memahami perbedaan fundamental ini adalah langkah pertama menuju pemilihan alat yang tepat untuk setiap aplikasi lapangan.

Prinsip Kerja Metode Rebound (Leeb)

Metode Leeb mengukur kekerasan material berdasarkan prinsip kehilangan energi impact body yang menumbuk permukaan material. Sebuah impact body bermassa tertentu diluncurkan dengan gaya pegas menuju permukaan benda uji, kemudian memantul kembali. Kecepatan impact body sebelum tumbukan (vi) dan setelah pantulan (vr) diukur secara elektromagnetik. Nilai kekerasan Leeb dihitung dengan rumus:

HL = 1000 × vr / vi

Konsep di balik rumus ini sederhana: semakin keras material, semakin kecil deformasi yang terjadi, sehingga impact body memantul dengan kecepatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, material yang lebih lunak menyerap lebih banyak energi, menghasilkan kecepatan pantul yang lebih rendah [1].

Pada pengujian material di lapangan, persyaratan teknis ini menjadi sangat kritis. Menurut Equotip Application Booklet yang diterbitkan oleh Proceq SA, benda uji harus memiliki massa minimal 5 kg (11 lbs) dan ketebalan minimal 25 mm (0,98 inci) untuk metode Leeb dengan impact device D, agar benda uji tidak mengalami yielding atau flexing yang dapat mempengaruhi hasil [1]. SNI 8461:2017 juga menegaskan hal yang sama: “Ketebalan dan berat potongan benda uji harus dipertimbangkan pada saat memilih perangkat tumbukan yang digunakan” [2].

Perangkat Impact dan Skala Kekerasan Leeb (HLD, HLS, HLE, dll.)

Metode Leeb memiliki tujuh tipe impact device yang masing-masing dirancang untuk jenis material dan kondisi pengujian tertentu: D, DC, D+15, DL, G, C, S, dan E [2]. Tabel koreksi arah tumbukan untuk kedelapan tipe ini tersedia secara lengkap dalam SNI 8461:2017 (halaman 12-14) [2].

Impact device D adalah yang paling umum digunakan, dengan massa 5,45 gram dan energi tumbukan 11 mJ. Device G memiliki massa lebih besar (83 gram) untuk material kasar seperti besi cor. Device E dirancang khusus untuk material dengan kekerasan sangat tinggi. Setiap device menghasilkan skala Leeb yang berbeda: HLD, HLS, HLE, dan seterusnya [1][2].

Equotip Application Booklet menyediakan tabel lengkap material yang sesuai untuk setiap impact device, termasuk baja tuang, stainless steel, besi cor, aluminium, kuningan, perunggu, dan tembaga murni [1]. Penting untuk memilih device yang tepat sesuai jenis material dan karakteristik benda uji.

Persyaratan Benda Uji dan Persiapan Permukaan

Persiapan permukaan yang tepat sangat menentukan akurasi hasil uji kekerasan Leeb. SNI 8461:2017 mensyaratkan kekasaran permukaan maksimal Ra 2 μm untuk impact device D [2]. Proceq Application Booklet menambahkan bahwa permukaan harus rata, bersih dari cat, karat, dan kontaminan lainnya [1].

Jika benda uji memiliki massa kurang dari 5 kg atau ketebalan kurang dari 25 mm, diperlukan dudukan khusus (support) yang memadai untuk menahan tumbukan dari alat. Proceq memperingatkan bahwa “kegagalan untuk memberikan dudukan dan sambungan yang memadai akan menghasilkan hasil uji yang lebih rendah dari nilai kekerasan yang sebenarnya” [1]. Hal ini menjadi salah satu sumber error paling umum pada pengujian Leeb di lapangan.

Prinsip Kerja Metode Ultrasonik (UCI)

Metode UCI menggunakan prinsip yang berbeda secara fundamental. Sebuah probe ultrasonik berisi batang logam yang beresonansi pada frekuensi tertentu, dengan indentor Vickers di ujungnya. Ketika indentor ditekan ke permukaan material, frekuensi resonansi batang berubah karena perubahan impedansi mekanik akibat kontak dengan material. Pergeseran frekuensi ini sebanding dengan kekerasan material [3].

Menurut paper ilmiah yang dipresentasikan di 15th Asia Pacific Conference for Non-Destructive Testing (APCNDT2017) oleh Frehner et al., standar untuk metode UCI adalah ASTM A1038 dan DIN 50159. Kedua standar mensyaratkan penggunaan indentor diamond yang memiliki bentuk ujung yang sama dengan metode Vickers stasioner sesuai ISO 6507 dan ASTM E92 [3].

Paper yang sama juga menegaskan bahwa untuk membedakan hasil pengujian UCI dari metode Vickers meja, notasi khusus harus digunakan, misalnya “570 HV(UCI)” [3]. Ini menjadi solusi penting untuk mengatasi keraguan auditor terhadap validitas hasil portable.

Persyaratan massa dan ketebalan untuk metode UCI jauh lebih ringan dibandingkan Leeb. ASTM A1038-19 dan DIN 50159 menetapkan massa minimal 0,3 kg dan ketebalan minimal 5 mm untuk pengujian yang akurat [1][3]. Paper APCNDT2017 mengonfirmasi bahwa “ketebalan 5 mm dan massa sampel 300 g biasanya diperlukan untuk pembacaan kekerasan yang tepat dengan metode UCI” [3].

Namun, metode UCI memiliki batasan material. Menurut Proceq, UCI tidak cocok untuk logam non-ferrous, besi cor, material kasar, dan produk besar [1]. Hal ini perlu dipertimbangkan dalam proses pemilihan metode.

Keunggulan UCI untuk Material Tipis dan Kompleks

Keunggulan utama UCI adalah kemampuannya menguji material tipis, kecil, dan berbentuk kompleks yang tidak dapat diuji dengan metode Leeb. Dengan persyaratan massa minimal hanya 0,3 kg dan ketebalan 5 mm, UCI menjadi solusi ideal untuk komponen otomotif, bilah turbin, bearing, dan lapisan permukaan keras [1][3].

Paper APCNDT2017 juga menyajikan data eksperimental yang menunjukkan bahwa panduan operator (user guidance) secara signifikan meningkatkan repeatabilitas hasil. Dalam uji coba dengan operator yang tidak berpengalaman, standar deviasi dapat dikurangi secara signifikan saat panduan operator diaktifkan [3]. Ini menjadi solusi penting untuk mengurangi variabilitas hasil di lapangan.

Perbandingan Langsung: Leeb vs UCI

Berikut adalah tabel perbandingan komprehensif antara kedua metode berdasarkan data dari Equotip Application Booklet, SNI 8461:2017, ASTM A1038-19, dan paper APCNDT2017:

Parameter Metode Leeb (Rebound) Metode UCI (Ultrasonik)
Prinsip Dasar Kehilangan energi impact body setelah tumbukan Perubahan frekuensi resonansi akibat indentasi
Massa Minimal Benda Uji ≥ 5 kg (tanpa support) ≥ 0,3 kg
Ketebalan Minimal ≥ 25 mm (device D) ≥ 5 mm
Jenis Material Utama Baja, besi cor, baja paduan, stainless steel, aluminium, kuningan Logam keras, baja, material dengan lapisan permukaan keras
Material Tidak Cocok Material tipis <25 mm, massa <5 kg Logam non-ferrous, besi cor, material kasar
Akurasi Sangat baik untuk material coarse-grained Sangat baik untuk material fine-grained dan permukaan halus
Pengaruh Operator Signifikan: sudut tumbukan dan posisi Lebih kecil dengan user guidance
Standar Utama ASTM A956, ISO 16859, SNI 8461:2017 ASTM A1038, DIN 50159
Biaya Alat Lebih rendah Lebih tinggi
Portabilitas Sangat tinggi Tinggi
Dampak Permukaan Bekas indentasi lebih besar Bekas indentasi sangat kecil

Peringatan penting dari Proceq yang juga ditegaskan dalam SNI 8461:2017: “Tidak ada korelasi langsung antara prinsip pengujian kekerasan Leeb dengan metode yang lain, konversi hanya perkiraan sehingga lebih baik dihindari kecuali untuk kasus-kasus khusus ketika terdapat dasar perkiraan yang bisa dipertanggungjawabkan” [1][2]. Hal ini perlu menjadi perhatian saat mengonversi nilai HL ke HRC, HB, atau HV.

Kriteria Pemilihan Metode Berdasarkan Karakteristik Objek Uji

Untuk memilih metode yang tepat, gunakan decision matrix berikut berdasarkan parameter objek uji Anda:

  1. Massa Benda Uji: Jika > 5 kg, Leeb dapat digunakan; jika < 5 kg, pertimbangkan UCI.
  2. Ketebalan Dinding: Jika < 5 mm, UCI adalah satu-satunya pilihan; jika 5-25 mm, UCI lebih disarankan; jika > 25 mm, kedua metode dapat digunakan.
  3. Jenis Material: Untuk baja struktural dan besi cor, Leeb unggul; untuk material keras, tipis, atau lapisan permukaan, UCI lebih tepat.
  4. Bentuk Material: Untuk benda uji berbentuk kompleks atau area kecil, UCI lebih fleksibel.
  5. Kekasaran Permukaan: Leeb dapat mengakomodasi permukaan yang lebih kasar (hingga Ra 2 μm untuk device D), sementara UCI membutuhkan permukaan yang lebih halus (Ra ≤ 15 μm per ASTM A1038).
  6. Akurasi yang Dibutuhkan: Jika diperlukan akurasi sangat tinggi pada area kecil, UCI lebih unggul dengan kemungkinan verifikasi menggunakan notasi HV(UCI).

Equotip Application Booklet menyediakan “Selection Guide” yang membagi material dalam 8 kelompok dan merekomendasikan metode terbaik untuk masing-masing [1]. Dengan mengikuti panduan ini, Anda dapat menghindari kesalahan pemilihan metode yang dapat menyebabkan hasil tidak akurat dan pemborosan biaya.

Kapan Memilih Metode Leeb?

Metode Leeb adalah pilihan utama untuk situasi berikut:

  • Benda uji besar dengan massa > 5 kg dan ketebalan > 25 mm
  • Material coarse-grained seperti besi cor, baja tuang, dan tempaan besar
  • Struktur baja konstruksi, girder jembatan, dan komponen infrastruktur berat
  • Inspeksi lapangan yang membutuhkan kecepatan dan portabilitas tinggi
  • Estimasi cepat kekerasan material sebelum pengujian lebih lanjut

Proceq secara eksplisit menyatakan: “Rebound instruments, with their larger indentation, should be given first consideration over UCI or Portable Rockwell instruments when testing coarse-grained materials” [1]. SNI 8461:2017 juga secara khusus membahas metode Leeb untuk besi dan baja, menjadikannya standar yang tepat untuk aplikasi ini [2].

Kapan Memilih Metode UCI?

Metode UCI unggul dalam situasi berikut:

  • Material tipis dengan ketebalan < 5 mm
  • Benda uji kecil dengan massa < 0,3 kg
  • Logam keras dan material dengan lapisan permukaan yang diperkeras
  • Komponen berbentuk kompleks dengan akses terbatas
  • Aplikasi yang membutuhkan akurasi tinggi pada permukaan kecil
  • Pengujian yang memerlukan indentasi minimal atau hampir tidak terlihat

Paper APCNDT2017 menegaskan bahwa UCI sesuai untuk material dengan massa serendah 0,3 kg dan ketebalan 5 mm, dengan repeatabilitas yang dapat ditingkatkan melalui user guidance [3].

Studi Kasus: Pemilihan Metode untuk Inspeksi Lapangan

Studi Kasus 1: Inspeksi Las pada Konstruksi Baja Berat

Skenario: Sebuah perusahaan kontraktor jembatan perlu memeriksa kekerasan area las pada girder baja dengan ketebalan 20 mm. Benda uji memiliki massa > 100 kg, permukaan las relatif kasar, dan hasil pengujian akan digunakan untuk verifikasi kualitas sesuai standar konstruksi.

Pertimbangan Teknis:

  • Massa benda uji > 5 kg ✓
  • Ketebalan 20 mm (kurang dari 25 mm yang direkomendasikan untuk Leeb device D)
  • Permukaan kasar (cocok untuk Leeb)
  • Material baja struktural (cocok untuk Leeb)

Rekomendasi: Metode Leeb dengan impact device G atau DL adalah pilihan utama. Device G dirancang khusus untuk material kasar dengan area kontak lebih besar, menghasilkan hasil yang lebih representatif pada permukaan las. Meskipun ketebalan 20 mm kurang dari 25 mm yang direkomendasikan untuk device D, penggunaan device DL (directional) dengan orientasi yang tepat dapat memberikan hasil yang memadai. Alternatifnya, gunakan dudukan support untuk meningkatkan akurasi [1][2].

Prosedur pengujian harus mengikuti SNI 8461:2017 termasuk koreksi arah tumbukan, dan verifikasi dengan blok kalibrasi bersertifikat sebelum dan sesudah pengujian [2].

Studi Kasus 2: Inspeksi Komponen Tipis (Pelat Aluminium 2 mm)

Skenario: Sebuah pabrik komponen otomotif perlu menguji kekerasan pelat aluminium tipis dengan ketebalan 2 mm pada komponen bodi kendaraan. Benda uji memiliki massa sekitar 0,5 kg dan permukaan yang telah di-finishing.

Pertimbangan Teknis:

  • Ketebalan 2 mm (jauh di bawah persyaratan Leeb 25 mm) ✗
  • Massa 0,5 kg (di bawah persyaratan Leeb 5 kg) ✗
  • Material non-ferrous (aluminium — terbatas untuk UCI)
  • Permukaan halus (cocok untuk UCI)

Rekomendasi: Metode UCI menjadi satu-satunya pilihan yang layak karena ketebalan dan massa yang terlalu kecil untuk metode Leeb. Namun, perlu diperhatikan bahwa material non-ferrous seperti aluminium memiliki keterbatasan pada metode UCI. Verifikasi dengan tabel material groups dari Equotip Application Booklet diperlukan untuk memastikan kompatibilitas [1].

Untuk optimasi hasil, gunakan probe UCI dengan kekuatan tekan yang sesuai dan aktifkan user guidance untuk mengurangi variabilitas operator. Hasil harus dilaporkan dengan notasi HV(UCI) sesuai rekomendasi ASTM A1038 [3][4].

Mengatasi Tantangan Umum: Akurasi, Kalibrasi, dan Standar

Tantangan terbesar dalam uji kekerasan portable di lapangan adalah akurasi yang rendah akibat berbagai faktor: kondisi permukaan material, kesalahan operator, kurangnya kalibrasi rutin, fluktuasi suhu, dan keterbatasan standar yang tidak sepenuhnya mengakomodasi metode portable.

SNI 8461:2017 memberikan peringatan penting: “Tidak ada korelasi langsung antara prinsip pengujian kekerasan Leeb dengan metode yang lain ataupun uji kuat tarik. Konversi terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan cara perkiraan” [2]. Hal ini menegaskan bahwa konversi skala kekerasan harus dilakukan dengan hati-hati dan hanya untuk keperluan estimasi.

Paper APCNDT2017 menawarkan solusi praktis: penggunaan user guidance pada alat UCI dapat secara signifikan meningkatkan repeatabilitas hasil, terutama untuk operator yang tidak berpengalaman. Data eksperimental menunjukkan bahwa standar deviasi antar operator dapat dikurangi secara signifikan saat panduan operator diaktifkan [3].

Solusi Kalibrasi Multi-Point untuk Meningkatkan Akurasi

Kalibrasi multi-point adalah solusi kritis untuk meningkatkan akurasi alat uji kekerasan portable. Berbeda dengan kalibrasi single-point yang hanya mengoreksi satu titik referensi, kalibrasi multi-point menggunakan beberapa blok kalibrasi dengan nilai kekerasan berbeda untuk membangun kurva koreksi yang lebih akurat di seluruh rentang pengukuran.

Penelitian optimasi kalibrasi sensor menunjukkan bahwa pendekatan multi-point dapat meningkatkan akurasi hingga 83,7% dan mengurangi RMSE dari 0,1582 menjadi 0,02579, serta mengurangi waktu kalibrasi sebesar 32,9%. Alat seperti MH600 yang dilengkapi dengan kalibrasi multi-point menawarkan solusi praktis untuk mengatasi non-linearitas dan drift yang umum terjadi pada pengukuran lapangan.

Praktik kalibrasi multi-point di lapangan meliputi:

  • Gunakan minimal 3 blok kalibrasi dengan nilai kekerasan yang mencakup rentang pengukuran
  • Verifikasi alat sebelum dan sesudah setiap sesi pengukuran
  • Dokumentasikan hasil kalibrasi untuk keperluan audit
  • Lakukan kalibrasi ulang secara berkala sesuai rekomendasi pabrikan

Panduan Memilih Alat Uji Kekerasan Portable

Berdasarkan analisis komprehensif di atas, berikut adalah langkah-langkah praktis untuk memilih alat uji kekerasan portable yang tepat:

  1. Identifikasi Karakteristik Objek Uji
    • Ukur massa dan ketebalan dinding material
    • Tentukan jenis material (ferrous, non-ferrous, atau campuran)
    • Evaluasi kondisi permukaan (kekasaran, kontaminasi)
    • Pertimbangkan bentuk dan aksesibilitas area pengujian
  2. Tentukan Metode Utama
    • Jika massa > 5 kg dan tebal > 25 mm → Leeb adalah pilihan utama
    • Jika massa < 5 kg dan tebal < 25 mm → UCI lebih sesuai
    • Jika material termasuk coarse-grained (besi cor, baja tuang) → Leeb lebih disarankan
    • Jika material tipis, kecil, atau bentuk kompleks → UCI lebih unggul
  3. Pertimbangkan Kebutuhan Kalibrasi
    • Untuk akurasi maksimal → pilih alat dengan kalibrasi multi-point
    • Untuk verifikasi hasil → pertimbangkan alat dengan metode combined (Leeb + UCI)
  4. Pilih Alat dengan Fitur yang Sesuai
    • Dukungan multi-metode (combined Leeb + UCI) untuk fleksibilitas maksimal
    • Fitur user guidance untuk mengurangi error operator
    • Kemampuan penyimpanan data dan pelaporan
    • Daya tahan baterai untuk pengujian lapangan ekstensif

Equotip Application Booklet menegaskan bahwa “kombinasi Leeb dan UCI dalam satu alat (combined method) memberikan fleksibilitas maksimal untuk berbagai aplikasi” [1]. Alat dengan kemampuan kalibrasi multi-point, seperti MH600, dapat mengatasi keterbatasan standar konversi dengan menyediakan koreksi yang lebih akurat di seluruh rentang pengukuran.

Kesimpulan

Pemilihan metode uji kekerasan portable antara Leeb (rebound) dan ultrasonik (UCI) harus didasarkan pada analisis teknis yang cermat terhadap karakteristik benda uji, kondisi lapangan, dan kebutuhan akurasi. Metode Leeb adalah pilihan ideal untuk benda uji besar, berat, dan material coarse-grained seperti baja struktural dan besi cor. Sementara metode UCI unggul untuk material tipis, kecil, berbentuk kompleks, dan aplikasi yang membutuhkan akurasi tinggi pada permukaan kecil.

Kedua metode memiliki keterbatasan masing-masing, terutama terkait konversi skala kekerasan dan persyaratan standar yang tidak sepenuhnya setara dengan metode laboratorium. Solusi seperti kalibrasi multi-point, user guidance, dan verifikasi silang dengan metode combined dapat secara signifikan meningkatkan keandalan hasil pengujian di lapangan.

Gunakan panduan ini untuk mengevaluasi kebutuhan inspeksi Anda dan pilih alat yang paling sesuai dengan karakteristik material dan kondisi operasional. Dengan pemahaman yang mendalam tentang prinsip kerja, persyaratan teknis, dan keterbatasan masing-masing metode, Anda dapat membuat keputusan yang tepat yang mengoptimalkan akurasi, efisiensi biaya, dan kepatuhan standar.

Sebagai supplier dan distributor alat ukur dan pengujian terpercaya, CV. Java Multi Mandiri menyediakan berbagai solusi portable hardness testing untuk kebutuhan bisnis Anda. Kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial terkait inspeksi material. Untuk konsultasi solusi bisnis lebih lanjut, hubungi tim teknis kami untuk mendapatkan rekomendasi alat yang paling sesuai dengan aplikasi spesifik Anda.

Artikel ini bersifat edukatif. Pemilihan alat harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik dan konsultasi dengan ahli. Produk yang disebutkan, seperti MH600, hanyalah contoh; tidak ada afiliasi komersial.

Rekomendasi Ultrasonic Hardness Tester

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Dynamic Hardness Tester MITECH MU200

Rp214,765,000.00

Referensi dan Sumber

  1. Frank, S., Frehner, C., & Akhlaghi, A. (2019). Portable Hardness Testing Leeb, Portable Rockwell and UCI — Equotip Application Booklet. Proceq SA / Screening Eagle Technologies. Retrieved from https://media.screeningeagle.com/asset/Downloads/Equotip_Application_Booklet_Portable_Hardness_Testing_Using_Leeb_Portable_Rockwell_UCI.pdf
  2. Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 8461:2017 — Metode uji kekerasan leeb untuk besi dan baja (Standard test method for leeb hardness testing of steel products, ASTM A956-12, IDT). Komite Teknis 91-01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil. Retrieved from https://binamarga.pu.go.id/uploads/files/286/metode-uji-kekerasan-leeb-untuk-besi-dan-baja.pdf
  3. Frehner, C., Mennicke, R., Gattiker, F., & Chai, D. (2017). Advancements of Ultrasonic Contact Impedance (UCI) Hardness Testing Based on Continuous Load Monitoring During the Indentation Process, and Practical Benefits. Paper presented at the 15th Asia Pacific Conference for Non-Destructive Testing (APCNDT2017), Singapore. Retrieved from https://www.ndt.net/events/APCNDT2017/app/content/Paper/272_Frehner.pdf
  4. ASTM International. (2019). ASTM A1038-19 — Standard Test Method for Portable Hardness Testing by the Ultrasonic Contact Impedance Method. Retrieved from https://standards.iteh.ai/catalog/standards/astm/741c4e94-f070-4a29-a132-dc6bdeb0db26/astm-a1038-19
  5. International Organization for Standardization. (2015). ISO 16859-1:2015 — Metallic materials — Leeb hardness test — Part 1: Test method. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/57828/a8c0ca5a715e466f916c553644f95b1f/ISO-16859-1-2015.pdf