Di pabrik kimia, petrokimia, dan migas, sistem perpipaan adalah urat nadi operasional. Setiap harinya, ribuan meter pipa mengalirkan fluida bertekanan tinggi, bersuhu ekstrem, dan seringkali bersifat korosif. Ketika sebuah pipa gagal—baik berupa kebocoran kecil maupun ledakan dahsyat—konsekuensinya sangat besar: produksi terhenti, biaya perbaikan melonjak, lingkungan tercemar, dan yang paling fatal, keselamatan pekerja terancam.
Pertanyaannya, bagaimana cara mencegah kegagalan tersebut sebelum terjadi?
Salah satu jawabannya terletak pada pengujian kekerasan material (hardness test). Nilai kekerasan suatu material bukan sekadar angka; ia adalah indikator langsung kekuatan tarik, ketahanan aus, dan ketahanan terhadap deformasi. Namun, pengujian ini seringkali dipandang sebelah mata sebagai prosedur quality control semata, padahal ia adalah langkah preventif strategis yang dapat menyelamatkan aset perusahaan.
Artikel ini menyajikan panduan strategis yang menghubungkan data hardness test dengan prediksi kegagalan pipa secara langsung. Kami akan mengupas tuntas metode pengujian yang tepat, standar internasional yang wajib dipatuhi, studi kasus kegagalan nyata di pabrik kimia Indonesia, serta merekomendasikan alat uji portabel seperti Mitech MH310 yang terbukti efektif untuk inspeksi di lapangan. Bagi para insinyur, manajer pemeliharaan, dan spesialis NDT, ini adalah referensi yang tidak boleh dilewatkan.
- Mengapa Kekerasan Material Menentukan Keamanan Pipa Kimia?
- 4 Metode Utama Pengujian Kekerasan Material untuk Pipa Industri
- Pencegahan Proaktif: Integrasi Hardness Test dengan Inspeksi Rutin
- Standar Internasional dan Nasional yang Wajib Dipatuhi
- Studi Kasus Nyata: Kegagalan Pipa di Pabrik Kimia Indonesia
- Rekomendasi Alat Uji Kekerasan Portabel untuk Inspeksi Lapangan
- Kesimpulan
- References
Mengapa Kekerasan Material Menentukan Keamanan Pipa Kimia?
Kekerasan material memiliki korelasi langsung dengan kekuatan tarik (tensile strength) material. Semakin tinggi nilai kekerasan, semakin besar pula ketahanan material terhadap deformasi plastis dan keausan. Dalam konteks pipa industri kimia, sifat ini sangat penting karena pipa harus mampu menahan tekanan internal, beban termal, dan lingkungan korosif secara simultan.
Penurunan nilai kekerasan akibat degradasi material seringkali menjadi awal dari bencana. Penelitian dari Jurnal Teknik ITS meneliti kegagalan pipa TP304H di Unit Amonia PT Petrokimia Gresik dan menemukan bahwa pre-existing crack pada sambungan las longitudinal memicu intergranular stress corrosion cracking (IGSCC) yang mengakibatkan batas butir mengalami sliding dan penurunan kekuatan material. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa tegangan yang bekerja pada pipa (12.978,55 psi) masih berada di bawah tensile strength material pada temperatur operasi 800°C (18.000 psi), namun karena adanya IGSCC, material kehilangan integritasnya lebih awal. [1]
Kasus lain yang tak kalah mengkhawatirkan datang dari penelitian di Jurnal Teknik Mesin Universitas Diponegoro (UNDIP) tentang kegagalan pipa elbow furnace. Hasil investigasi mengungkapkan bahwa fenomena decarburization pada permukaan pipa akibat paparan suhu tinggi menyebabkan penurunan drastis nilai kekerasan pada permukaan material. Patahan yang terjadi adalah patah lelah (fatigue fracture) yang ditandai dengan ratchet marks dan microcrack sebagai awal retakan. [2]
Dari kedua studi kasus ini, pola yang jelas terlihat: penurunan kekerasan material selalu mendahului kegagalan. Jika program hardness testing rutin diterapkan, degradasi semacam ini dapat terdeteksi jauh sebelum mencapai titik kritis. Inilah mengapa pengujian kekerasan material bukan sekadar prosedur—ia adalah sistem peringatan dini yang melindungi investasi dan keselamatan pabrik Anda.
Untuk memahami lebih dalam tentang metodologi penilaian laju kegagalan pipa dan mekanisme degradasi material, publikasi IAEA tentang Methodologies for Assessing Pipe Failure Rates menyediakan kerangka analisis yang komprehensif. [3]
4 Metode Utama Pengujian Kekerasan Material untuk Pipa Industri
Terdapat empat metode utama pengujian kekerasan yang lazim digunakan di industri, masing-masing dengan prinsip, kelebihan, dan aplikasi spesifiknya. Memahami perbedaan ini sangat penting untuk memilih metode yang tepat sesuai jenis material pipa dan kondisi pengujian.
| Metode | Indentor | Rentang Beban | Skala | Aplikasi pada Pipa Kimia |
|---|---|---|---|---|
| Brinell | Bola baja/karbida tungsten | 500–3000 kgf | HB | Material cor, permukaan kasar, pipa baja karbon heavy-wall |
| Rockwell | Bola baja (HRB) / Kerucut intan (HRC) | 60–150 kgf | HRB, HRC, HRA | Pipa baja karbon heat-treated, pengujian cepat di lini produksi |
| Vickers | Piramida intan | 1–120 kgf | HV | Material tipis, coating, heat-affected zone (HAZ) las |
| Leeb (Portabel) | Bola karbida tungsten impact body | Impact energy ~11 Nmm | HL, dikonversi ke HB, HRC, HV | Inspeksi in-situ pada pipa yang sudah terpasang |
Brinell (ASTM E10)
Metode Brinell menggunakan bola baja atau karbida tungsten dengan diameter tertentu yang ditekankan ke permukaan material di bawah beban 500 hingga 3000 kgf. Diameter bekas indentasi diukur, dan nilai kekerasan dihitung berdasarkan rasio beban terhadap luas permukaan indentasi. Metode ini paling cocok untuk material dengan butiran kasar seperti besi cor dan pipa baja karbon dengan dinding tebal, karena memberikan hasil yang stabil dan representatif.
Rockwell (ASTM E18)
Rockwell bekerja dengan dua tahap pembebanan: beban minor (10 kgf) diikuti beban mayor. Kedalaman penetrasi diukur secara langsung, sehingga nilai kekerasan dapat dibaca dalam hitungan detik. Metode Rockwell skala B (HRB) dengan indentor bola baja 1/16 inci dan beban 100 kgf sangat populer untuk pipa baja karbon. Skala C (HRC) dengan indentor kerucut intan dan beban 150 kgf digunakan untuk material yang lebih keras seperti pipa baja paduan. Keunggulan utama Rockwell adalah kecepatan dan kemudahan pengoperasiannya.
Vickers (ASTM E92)
Vickers menggunakan indentor piramida intan dengan sudut 136°, dan ukuran diagonal bekas indentasi diukur menggunakan mikroskop. Metode ini menawarkan akurasi tertinggi karena indentasinya yang sangat kecil dan presisi. Vickers sangat ideal untuk mengukur kekerasan pada area yang sangat spesifik, seperti heat-affected zone (HAZ) pada sambungan las, lapisan coating tipis, atau material dengan dimensi kecil.
Leeb (ASTM E110)
Metode Leeb, juga dikenal sebagai rebound hardness test, menggunakan impact body bermassa tertentu yang ditembakkan ke permukaan material. Kecepatan impact body sebelum dan sesudah tumbukan diukur secara elektromagnetik, dan rasio kecepatan ini dikonversi menjadi nilai kekerasan. Metode Leeb bersifat portabel dan tidak merusak (non-destructive), sehingga sangat cocok untuk inspeksi di tempat pada pipa-pipa besar yang sudah terpasang di pabrik kimia.
Standar ASTM untuk pengujian fisik dan mekanik, termasuk E10, E18, E92, dan E110, dapat diakses secara lengkap melalui halaman resmi ASTM Store. [4]
Memilih Metode yang Tepat untuk Pipa Baja Karbon di Pabrik Kimia
Untuk pipa baja karbon (carbon steel) yang paling umum digunakan di pabrik kimia, rekomendasi metode adalah sebagai berikut:
- Rockwell HRB: Paling efisien untuk material baja karbon standar tanpa perlakuan panas. Kecepatan pengukuran memungkinkan inspeksi dalam volume besar.
- Brinell HB: Lebih cocok untuk pipa berdinding tebal (heavy-wall) atau permukaan pipa yang relatif kasar. Hasilnya lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh heterogenitas mikro permukaan.
- Vickers HV: Pilihan ideal untuk mengukur kekerasan pada area spesifik seperti daerah lasan (HAZ) atau pada pipa dengan dinding tipis.
- Leeb HL: Solusi terbaik untuk inspeksi in-situ pada pipa yang sudah terpasang dan beroperasi. Alat portabel memungkinkan pengujian tanpa pemotongan sampel.
Pencegahan Proaktif: Integrasi Hardness Test dengan Inspeksi Rutin
Pengujian kekerasan bukanlah kegiatan satu kali—ia harus menjadi bagian integral dari program inspeksi rutin sesuai standar API 570 (Piping Inspection Code). Standar ini mengatur inspeksi pipa in-service untuk memastikan integritas sistem perpipaan selama masa operasinya.
Strategi pencegahan proaktif yang efektif meliputi langkah-langkah berikut:
- Baseline Data: Lakukan hardness test pada setiap pipa baru sebelum dioperasikan untuk mendapatkan data awal (baseline). Data ini menjadi acuan untuk memonitor degradasi di masa mendatang.
- Inspeksi Periodik: Jadwalkan hardness test secara berkala berdasarkan tingkat risiko dan riwayat operasi pipa. Untuk pipa yang beroperasi di lingkungan korosif atau suhu tinggi, frekuensi inspeksi harus lebih tinggi.
- Mapping Zona Risiko: Identifikasi titik-titik rawan degradasi seperti daerah sambungan las, elbow, dan area dengan perubahan temperatur signifikan. Lakukan pengukuran kekerasan secara spesifik di titik-titik tersebut.
- Korelasi dengan Data Operasional: Bandingkan data hardness test dengan parameter operasional seperti temperatur, tekanan, dan komposisi fluida untuk mengidentifikasi pola degradasi.
- Tindakan Korektif: Jika nilai kekerasan menunjukkan penurunan di bawah ambang batas kritis, segera lakukan investigasi lebih lanjut. Tindakan dapat berupa perbaikan, penggantian material, atau penyesuaian parameter operasi.
Penelitian UNDIP yang telah disebutkan sebelumnya mengkonfirmasi bahwa decarburization akibat suhu tinggi menyebabkan penurunan nilai kekerasan yang signifikan pada permukaan pipa elbow furnace sebelum akhirnya mengalami fatigue fracture. [2] Jika program hardness testing rutin diterapkan sesuai API 570, fenomena decarburization ini dapat terdeteksi pada tahap awal—jauh sebelum crack initiation terjadi.
Untuk lingkungan yang mengandung hidrogen sulfida (H2S)—situasi yang umum di pabrik kimia dan migas—standar NACE MR0175/ISO 15156 secara spesifik menetapkan batas kekerasan maksimum material untuk mencegah sulfide stress cracking (SSC). Standar ini menyatakan bahwa kekerasan akhir maksimum untuk pipa baja karbon adalah 22 HRC, dan untuk pipe fittings dari ASTM A234 grade WPB atau WPC, kekerasan akhir tidak boleh melampaui 197 HBW. [5] Melanggar batas ini berarti membuka pintu bagi kegagalan katastrofik.
Panduan TWI tentang kepatuhan terhadap persyaratan kekerasan NACE memberikan penjelasan rinci tentang implementasi standar ini untuk pipa di lingkungan sour service. [6]
Efek erosi-korosi pada sistem perpipaan juga dapat mempercepat degradasi material secara signifikan. Artikel National Board tentang efek erosi-korosi pada power plant piping menyajikan strategi inspeksi dan mitigasi yang relevan untuk industri kimia. [7]
Standar Internasional dan Nasional yang Wajib Dipatuhi
Kepatuhan terhadap standar yang berlaku bukan hanya soal regulasi—ia adalah fondasi keandalan operasional dan mitigasi risiko. Berikut adalah standar-standar kunci yang wajib dipahami oleh setiap insinyur dan manajer pemeliharaan di industri kimia:
| Standar | Nama Lengkap | Lingkup Aplikasi |
|---|---|---|
| ASME B31.3 | Process Piping | Desain, material, fabrikasi, pengujian, dan inspeksi sistem perpipaan di pabrik kimia dan petrokimia |
| API 570 | Piping Inspection Code | Inspeksi, reparasi, dan alterasi pipa in-service |
| ASTM E10 | Standard Test Method for Brinell Hardness | Prosedur pengujian Brinell |
| ASTM E18 | Standard Test Methods for Rockwell Hardness | Prosedur pengujian Rockwell |
| ASTM E92 | Standard Test Methods for Vickers Hardness | Prosedur pengujian Vickers |
| ASTM E110 | Standard Test Method for Rockwell and Brinell Hardness of Metallic Materials by Portable Hardness Testers | Prosedur pengujian kekerasan portabel |
| NACE MR0175/ISO 15156 | Petroleum and natural gas industries — Materials for use in H2S-containing environments | Pemilihan material tahan SSC di lingkungan H2S |
| SNI terkait | Standar Nasional Indonesia | Adopsi standar internasional untuk konteks Indonesia |
ASME B31.3 merupakan standar utama yang mengatur desain sistem perpipaan proses (process piping) di pabrik kimia, sedangkan API 570 menjadi acuan untuk inspeksi pipa yang sudah beroperasi. Keduanya mensyaratkan verifikasi sifat mekanik material, termasuk pengujian kekerasan.
Sementara itu, ASTM E10, E18, E92, dan E110 memberikan kerangka prosedural yang ketat untuk setiap metode pengujian kekerasan. Mengacu pada standar ini memastikan bahwa data hardness test yang diperoleh akurat, dapat direproduksi, dan diakui secara internasional.
Studi Kasus Nyata: Kegagalan Pipa di Pabrik Kimia Indonesia
Pengalaman pahit dari kegagalan pipa di pabrik kimia Indonesia memberikan pelajaran berharga. Berikut adalah tiga studi kasus yang telah diinvestigasi secara ilmiah, yang secara jelas menunjukkan hubungan antara penurunan kekerasan material dan kegagalan sistem perpipaan.
Kasus 1: Pipa TP304H di PT Petrokimia Gresik
Penelitian dari Jurnal Teknik ITS menganalisis kegagalan pipa udara A312 Tipe 304H pada Line A-1011-14″ di Unit Amonia PT Petrokimia Gresik. Hasil investigasi dengan metode Root Cause Failure Analysis (RCFA) yang didukung Fault Tree Analysis (FTA), metalografi, SEM-EDX, dan OES mengungkapkan:
- Mode kegagalan: Intergranular Stress Corrosion Cracking (IGSCC) pada sambungan las longitudinal.
- Data kuantitatif: Tegangan yang bekerja 12.978,55 psi pada temperatur 800°C, masih di bawah tensile strength material (18.000 psi).
- Temuan mikroskopis: Kenaikan krom 1,4% dan karbon 21,64% pada batas butir, menandakan sensitisasi material.
- Rekomendasi: Penggantian material dari pipa welded ke seamless pipe, karena pipa seamless tidak memiliki sambungan longitudinal yang menjadi titik lemah utama. [1]
Kasus 2: Pipa Elbow Furnace ASTM A234 WPB
Penelitian dari Jurnal Teknik Mesin UNDIP menganalisis kegagalan pipa elbow pada furnace yang terbuat dari ASTM A234 WPB. Temuan kunci:
- Mode kegagalan: Patah lelah (fatigue fracture) yang diawali oleh thermal fatigue akibat beban termal fluktuatif.
- Penyebab utama: Fenomena decarburization pada permukaan pipa akibat suhu tinggi, yang mengakibatkan nilai kekerasan rendah pada bagian permukaan material.
- Bukti forensik: Ditemukan ratchet marks dan microcrack yang menandakan crack initiation.
- Implikasi: Jika hardness test dilakukan secara rutin pada area elbow, penurunan kekerasan akibat decarburization dapat terdeteksi sebelum retakan terbentuk. [2]
Kasus 3: Pipa SUS 410 di Pabrik Pupuk
Studi kegagalan pipa reboiler SUS 410 di sebuah pabrik pupuk di Indonesia mengungkapkan kebocoran pada tekanan operasi 17 kg/cm² dan temperatur 130°C. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor intensitas tegangan (KI) material mencapai 1.774,3 MPa, jauh melampaui ketangguhan retak material (KIC = 499,4 MPa). [8]
- Penyebab: Kombinasi tegangan operasional yang tinggi dengan penurunan ketangguhan material akibat korosi.
- Rekomendasi: Penambahan ketebalan pipa dari 2,5 mm menjadi 3 mm, dan penggantian material dari SUS 410 ke SUS 316 yang memiliki ketahanan korosi dan sifat mekanik lebih baik.
Pelajaran Kunci: Mengapa Hardness Test Dapat Mencegah Kegagalan Serupa
Benang merah dari ketiga studi kasus di atas sangat jelas: penurunan atau penyimpangan nilai kekerasan material selalu mendahului kegagalan. Pada kasus PT Petrokimia Gresik, IGSCC pada batas butir menyebabkan penurunan kekuatan material sebelum pipa pecah. Pada kasus UNDIP, decarburization menurunkan kekerasan permukaan sebelum fatigue crack terbentuk. Pada kasus pabrik pupuk, ketidakcocokan sifat mekanik material terhadap kondisi operasional menyebabkan kebocoran.
Jika program hardness testing rutin diterapkan sesuai standar API 570—dengan frekuensi yang tepat dan di titik-titik rawan—degradasi ini dapat terdeteksi pada tahap awal. Tindakan korektif seperti penggantian material (dari welded ke seamless pipe, atau dari SUS 410 ke SUS 316) dan penyesuaian prosedur pengelasan dapat dilakukan sebelum kebocoran atau ledakan terjadi.
Rekomendasi Alat Uji Kekerasan Portabel untuk Inspeksi Lapangan
Inspeksi di lapangan pada pipa yang sudah terpasang dan beroperasi memerlukan alat uji kekerasan yang portabel, akurat, dan mudah digunakan. Metode Leeb (rebound hardness) telah menjadi solusi standar untuk aplikasi semacam ini di industri kimia dan migas.
Mitech MH310 adalah hardness tester portabel metode Leeb yang dirancang khusus untuk pengujian kekerasan di tempat pada berbagai material logam. Alat ini memenuhi standar ASTM E110 untuk portable hardness testing dan menawarkan spesifikasi yang sangat kompetitif:
| Spesifikasi | Mitech MH310 |
|---|---|
| Rentang Ukur | 170–960 HLD |
| Akurasi | ±6 HLD |
| Repeatabilitas | 6 HLD |
| Skala Konversi | HL, HB, HRB, HRC, HRA, HV, HS |
| Material yang Dapat Diuji | 7 kelompok: baja, baja paduan, stainless steel, besi cor, aluminium, dll. |
| Deteksi Arah Impact | Otomatis (5 arah: vertikal bawah, miring, horizontal, vertikal atas) |
| Penyimpanan Data | 100 seri pengukuran (masing-masing seri dapat menyimpan rata-rata 32–1 kali pengukuran) |
| Konektivitas | USB 1.1 untuk transfer data ke PC, printer thermal terintegrasi |
| Daya Tahan Baterai | Standby ~150 jam, pengisian 2,5–3,5 jam |
| Dimensi | 212 × 80 × 32 mm |
| Berat | ~5,5 kg (termasuk probe dan aksesori) |
Keunggulan Mitech MH310 untuk Pabrik Kimia
Bagi tim inspeksi di pabrik kimia, keunggulan Mitech MH310 sangat jelas:
- Portabilitas Total: Dengan bobot sekitar 5,5 kg dan dimensi yang ringkas, alat ini mudah dibawa ke area inspeksi yang sulit dijangkau, termasuk scaffolding di ketinggian dan ruang terbatas di sekitar peralatan proses.
- Deteksi Arah Impact Otomatis: Alat secara otomatis mendeteksi arah impact (vertikal bawah, miring, horizontal, vertikal atas) dan mengompensasi pengaruh gravitasi, sehingga akurasi terjaga meskipun pengukuran dilakukan di posisi yang tidak ideal.
- Konversi Multi-Skala: Kemampuan mengkonversi hasil pengukuran HL ke 6 skala lainnya (HB, HRB, HRC, HRA, HV, HS) memungkinkan data langsung dibandingkan dengan spesifikasi material yang menggunakan skala berbeda.
- Penyimpanan Data Terstruktur: Kapasitas penyimpanan 100 seri pengukuran memudahkan pencatatan data jangka panjang untuk analisis tren degradasi material.
- Printer Thermal Terintegrasi: Data hasil pengukuran dapat dicetak langsung di lapangan untuk dokumentasi inspeksi.
- Daya Tahan Baterai Superior: Hingga 150 jam standby memungkinkan penggunaan sepanjang hari tanpa khawatir kehabisan daya.
Sebagai perbandingan, metode tradisional seperti Rockwell benchtop memerlukan pemotongan sampel dari pipa, yang tidak hanya merusak material tetapi juga memerlukan waktu dan biaya tambahan untuk reparasi. Dengan Mitech MH310, pengujian dapat dilakukan langsung pada pipa yang sedang beroperasi tanpa menghentikan produksi—sebuah efisiensi yang sangat berharga di lingkungan industri.
Untuk informasi lebih lanjut tentang spesifikasi, aplikasi, dan konsultasi teknis, kunjungi halaman produk Mitech MH310 di https://mitech-ndt.co.id/product/alat-ukur-kekerasan-mitech-mh310/.
Kesimpulan
Pengujian kekerasan material bukanlah sekadar prosedur quality control—ia adalah investasi strategis untuk mencegah kegagalan pipa yang berpotensi menyebabkan kerugian finansial besar, kerusakan lingkungan, dan yang terpenting, ancaman terhadap keselamatan pekerja.
Seperti yang telah diuraikan dalam artikel ini, hubungan antara nilai kekerasan material dan risiko kegagalan pipa tidak dapat diabaikan. Data dari studi kasus nyata di PT Petrokimia Gresik, pipa elbow furnace, dan pabrik pupuk Indonesia secara konsisten menunjukkan bahwa penurunan kekerasan material—akibat decarburization, sensitisasi, atau korosi—selalu mendahului terjadinya kebocoran dan ledakan. Jika program hardness testing rutin diterapkan sesuai standar (API 570, ASME B31.3, ASTM, dan NACE MR0175), degradasi ini dapat terdeteksi dini dan tindakan korektif dapat diambil tepat waktu.
Pemilihan metode pengujian yang tepat—baik Brinell, Rockwell, Vickers, maupun Leeb portabel—harus didasarkan pada jenis material, kondisi operasional, dan kebutuhan spesifik inspeksi. Untuk inspeksi lapangan yang efisien, alat portabel seperti Mitech MH310 menawarkan solusi praktis dengan akurasi tinggi, kemudahan penggunaan, dan kemampuan penyimpanan data yang mumpuni.
Integrasikan pengujian kekerasan material dalam program inspeksi Anda sekarang juga. Jangan menunggu hingga kegagalan terjadi untuk menyadari pentingnya data hardness test. Untuk informasi lebih lanjut tentang hardness tester portabel Mitech MH310 dan konsultasi teknis, hubungi tim kami.
CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur serta instrumentasi pengujian yang terpercaya, melayani kebutuhan bisnis di sektor industri kimia, migas, manufaktur, dan konstruksi. Kami tidak menyediakan jasa pengujian atau konsultasi teknik, melainkan menyediakan peralatan berkualitas tinggi untuk mendukung operasional dan pengendalian mutu perusahaan Anda. Dengan portofolio produk unggulan seperti Mitech MH310, kami berkomitmen membantu perusahaan mengoptimalkan efisiensi operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial untuk uji kekerasan material. Untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda, silakan konsultasi solusi bisnis dengan tim kami.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan insinyur material atau NDT bersertifikasi. Mention produk Mitech MH310 bukan merupakan afiliasi berbayar kecuali dinyatakan secara eksplisit.
Rekomendasi Leeb Hardness Tester
Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan
Mitech MH310 Alat Ukur Kekerasan Logam Portabel (Leeb) – Integrated Printer & Akurasi Tinggi
Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan
Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan
Mitech MH600 Alat Ukur Kekerasan Portable IP65 – Tahan Oli & Debu
References
- Prayoga, S., & Witantyo. (2016). Analisa Kegagalan Pipa Udara A312 Tipe 304H pada Line A-1011-14″ (25P2J) Unit Amonia PT. Petrokimia Gresik. Jurnal Teknik ITS Vol. 5, No. 2. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/192947-ID-analisa-kegagalan-pipa-udara-a312-tipe-3.pdf
- Sasongko, G., & Nugroho, S. (N.D.). Analisis Kegagalan Pipa Elbow 180° pada Furnace. Jurnal Teknik Mesin, Universitas Diponegoro. Retrieved from https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jtm/article/view/12864
- International Atomic Energy Agency (IAEA). (N.D.). Methodologies for Assessing Pipe Failure Rates in Advanced Water Cooled Reactors. Retrieved from https://www-pub.iaea.org/MTCD/publications/PDF/PUB2043_web.pdf
- ASTM International. (N.D.). Physical Testing Standards and Mechanical Testing Standards. Retrieved from https://store.astm.org/products-services/standards-and-publications/standards/physical-testing-standards-and-mechanical-testing-standards.html
- NACE International & ISO. (N.D.). NACE MR0175 / ISO 15156-1: Petroleum and natural gas industries — Materials for use in H2S-containing environments in oil and gas production. Retrieved from https://www.octalsteel.com/wp-content/uploads/2017/10/NACE-MR0175-ISO15156-specification.pdf
- TWI (The Welding Institute). (N.D.). Complying with NACE Hardness Requirements. Retrieved from https://www.twi-global.com/technical-knowledge/job-knowledge/complying-with-nace-hardness-requirements-119
- National Board of Boiler and Pressure Vessel Inspectors. (N.D.). The Effects of Erosion-Corrosion on Power Plant Piping. Retrieved from https://www.nationalboard.org/index.aspx?pageID=164&ID=213
- Prosiding BKSTM (Badan Kerja Sama Teknik Mesin). (N.D.). Analisis Kegagalan Daerah Lasan Pipa Stainless Steel pada Reboiler Pabrik Pupuk.





