Sebuah titik korosi yang terabaikan pada struktur baja bernilai jutaan dolar dapat menjadi awal dari bencana. Bagi seorang Marine Superintendent atau Technical Manager, menjaga integritas aset maritim bukan sekadar tugas rutin—ini adalah tanggung jawab fundamental terhadap keselamatan, kelayakan operasional, dan kepatuhan regulasi. Tantangan utamanya adalah menyatukan informasi yang terfragmentasi dari berbagai regulasi, data teknis, dan praktik lapangan menjadi sebuah strategi yang koheren. Artikel ini adalah jawaban atas tantangan tersebut: “The Ship Superintendent’s Playbook”. Ini adalah panduan komprehensif tunggal yang menghubungkan risiko korosi yang tak terhindarkan, metodologi inspeksi ultrasonik yang presisi, dan strategi pencegahan total, semuanya berlandaskan standar klasifikasi dan praktik terbaik industri.
- Mengapa Kontrol Korosi adalah Prioritas Utama Manajemen Kapal?
- Memahami Musuh: Penyebab dan Jenis Korosi di Lingkungan Maritim
- Inspeksi Ultrasonik (UTM): Kunci Menilai Integritas Lambung Kapal
- Perisai Proaktif: Sistem Pencegahan dan Kontrol Korosi Terpadu
- Memilih Mitra yang Tepat: Kriteria Jasa Inspeksi dan Peralatan
- Kesimpulan: Integritas Struktural sebagai Siklus Berkelanjutan
- References
Mengapa Kontrol Korosi adalah Prioritas Utama Manajemen Kapal?
Mengabaikan korosi bukan hanya masalah estetika; ini adalah kelalaian yang mengundang risiko bisnis, keselamatan, dan regulasi yang sangat besar. Integritas struktural adalah pilar utama keselamatan maritim, sebuah prinsip yang ditegaskan dalam konvensi internasional seperti Safety of Life at Sea (SOLAS) dari International Maritime Organization (IMO). Kegagalan dalam mengelola degradasi material kapal secara efektif dapat memicu serangkaian konsekuensi yang merusak, menjadikan kontrol korosi sebagai prioritas strategis, bukan sekadar tugas pemeliharaan.
Dampak Finansial: Biaya Tersembunyi di Balik Karat
Korosi adalah parasit ekonomi yang menggerogoti profitabilitas operasional jauh melampaui biaya perbaikan sederhana. Kerugian finansial akibat korosi yang tidak terkontrol bersifat multifaset dan sering kali tersembunyi:
- Peningkatan Konsumsi Bahan Bakar: Lambung kapal yang kasar akibat korosi dan biofouling meningkatkan hambatan hidrodinamis, memaksa mesin bekerja lebih keras dan membakar lebih banyak bahan bakar untuk mempertahankan kecepatan yang sama.
- Biaya Perbaikan dan Penggantian Baja: Penipisan plat yang melampaui batas toleransi yang ditetapkan oleh badan klasifikasi mengharuskan penggantian baja yang mahal, baik dari segi material maupun tenaga kerja.
- Vessel Downtime: Setiap hari kapal berada di galangan (dry-dock) untuk perbaikan korosi adalah hari tanpa pendapatan. Downtime yang tidak terencana dapat mengganggu jadwal pelayaran, merusak hubungan dengan penyewa (charterer), dan menyebabkan kerugian pendapatan yang signifikan.
- Dampak pada Premi Asuransi: Kapal dengan riwayat masalah korosi atau kondisi struktur yang buruk dapat dianggap sebagai risiko yang lebih tinggi oleh perusahaan asuransi, yang berpotensi menyebabkan premi yang lebih mahal.
Risiko Struktural dan Keselamatan: Dari Kebocoran Hingga Bencana
Dampak paling mengerikan dari korosi adalah kegagalan struktural katastropik. Proses degradasi ini secara sistematis melemahkan material kapal, menciptakan kondisi yang matang untuk bencana. Korosi seragam (uniform corrosion) secara bertahap mengurangi ketebalan plat, menurunkan kekuatan tarik (tensile strength) secara keseluruhan. Namun, jenis korosi yang lebih berbahaya seperti korosi sumuran (pitting corrosion) menciptakan lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai titik konsentrasi tegangan. Di bawah beban dinamis lautan, titik-titik lemah ini dapat dengan cepat berkembang menjadi retakan dan menyebabkan kebocoran atau bahkan patahan struktur.
Sejarah rekayasa dipenuhi dengan contoh-contoh kegagalan struktur akibat korosi. Meskipun bukan insiden maritim, runtuhnya Jembatan Silver di Amerika Serikat pada tahun 1967 akibat retak korosi tegangan (stress corrosion cracking) menjadi pengingat yang kuat tentang bagaimana cacat kecil yang dipicu oleh korosi dapat menyebabkan kegagalan total tanpa peringatan. Bagi sebuah kapal, skenario serupa dapat berarti kebocoran lambung, tumpahan muatan berbahaya ke lingkungan, atau dalam kasus terburuk, kehilangan kapal dan nyawa di laut.
Memahami Musuh: Penyebab dan Jenis Korosi di Lingkungan Maritim
Untuk memerangi korosi secara efektif, kita harus memahami sifat dasarnya. Korosi pada baja kapal adalah proses elektrokimia alami. Dalam air laut, yang merupakan elektrolit yang sangat baik, area yang berbeda pada permukaan baja dapat bertindak sebagai anoda dan katoda, menciptakan sel galvanik mikroskopis. Di anoda, besi teroksidasi (kehilangan elektron) dan larut, membentuk karat. Proses ini dipercepat oleh kehadiran oksigen dan garam. Memahami mekanisme fundamental ini, sebagaimana didefinisikan oleh standar industri dari organisasi seperti AMPP (Association for Materials Protection and Performance), adalah langkah pertama dalam merancang pertahanan yang efektif.
Faktor Utama Penipisan Plat: Korosi Internal vs. Eksternal
Penipisan plat kapal terjadi di dua medan pertempuran utama: dari luar dan dari dalam. Kegagalan untuk mengelola kedua front ini akan menyebabkan degradasi yang dipercepat.
- Korosi Eksternal: Lambung kapal yang terus-menerus terendam dalam air laut dan terpapar atmosfer laut yang korosif adalah korban utama. Abrasi dari air, benturan dengan dermaga, dan kerusakan mekanis pada lapisan pelindung (cat) membuka jalan bagi air laut untuk menyerang baja secara langsung.
- Korosi Internal: Ancaman dari dalam seringkali lebih tersembunyi namun sama berbahayanya. Tangki balas (ballast tanks) yang secara teratur diisi dan dikosongkan dengan air laut menciptakan lingkungan yang sangat korosif. Demikian pula, tangki kargo, ruang kosong (void spaces), dan loker rantai jangkar adalah area kritis di mana kelembaban dapat terperangkap dan menyebabkan korosi parah.
Kegagalan lapisan pelindung adalah katalis utama. Saat cat tergores atau rusak, baja di bawahnya menjadi anoda yang sangat aktif dibandingkan dengan area sekitarnya yang masih terlindungi, menyebabkan korosi lokal yang cepat dan dalam. Inilah sebabnya mengapa dalam desain kapal, para insinyur selalu memperhitungkan “corrosion allowance” atau margin korosi—ketebalan baja tambahan di atas persyaratan kekuatan struktural minimum untuk mengantisipasi kehilangan material selama masa pakai kapal.
Identifikasi Jenis Korosi Kritis pada Kapal
Meskipun semua korosi merusak, beberapa jenis menimbulkan ancaman yang lebih spesifik dan berbahaya bagi struktur kapal:
- Korosi Seragam (Uniform Corrosion): Terjadi secara merata di permukaan baja yang luas. Meskipun terlihat kurang dramatis, jenis ini bertanggung jawab atas hilangnya tonase baja terbesar dan secara bertahap menipiskan seluruh struktur.
- Korosi Sumuran (Pitting Corrosion): Serangan lokal yang menciptakan lubang atau “sumur” kecil namun dalam. Ini sangat berbahaya karena dapat menembus plat baja dengan cepat sementara kehilangan logam secara keseluruhan minimal. Sumuran ini menjadi titik konsentrasi tegangan yang dapat memicu retak dan kegagalan fraktur.
- Korosi Galvanik (Galvanic Corrosion): Terjadi ketika dua logam yang berbeda (misalnya, baling-baling perunggu dan lambung baja) bersentuhan secara elektrik dalam elektrolit (air laut). Logam yang kurang mulia (baja) akan berkorosi secara istimewa untuk melindungi logam yang lebih mulia (perunggu).
- Korosi Celah (Crevice Corrosion): Korosi lokal yang intensif terjadi di dalam celah atau area terlindung di mana aliran oksigen terbatas, seperti di bawah gasket, sambungan baut, atau tumpukan sedimen.
Inspeksi Ultrasonik (UTM): Kunci Menilai Integritas Lambung Kapal
Jika korosi adalah penyakit, maka Pengukuran Ketebalan Ultrasonik atau Ultrasonic Thickness Measurement (UTM) adalah alat diagnostik utamanya. Metode Non-Destructive Testing (NDT) ini adalah standar industri untuk menilai kondisi sebenarnya dari struktur kapal tanpa perlu merusaknya. Prosedur dan tingkat inspeksi UTM diatur secara ketat oleh badan-badan klasifikasi dalam dokumen seperti IACS (International Association of Classification Societies) Unified Requirements seri Z[1]. Standar teknis untuk metode pengukuran itu sendiri sering kali mengacu pada praktik yang diakui secara internasional seperti ASTM E797.
Contoh alat ultrasonic thickness gauge:
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Prinsip Kerja Alat Ukur Ketebalan Ultrasonik
Cara kerja alat ukur ketebalan ultrasonik sangat cerdas dan didasarkan pada prinsip “pulse-echo”.
- Transduser (Probe): Komponen ini menghasilkan gelombang suara berfrekuensi tinggi (ultrasonik) dan mengirimkannya ke dalam material yang akan diukur.
- Couplant: Gel atau cairan khusus dioleskan antara transduser dan permukaan material untuk menghilangkan celah udara dan memastikan transmisi gelombang suara yang efisien.
- Perjalanan Gelombang: Gelombang suara merambat melalui material dengan kecepatan konstan hingga mengenai batas atau dinding belakang material.
- Gema (Echo): Saat mengenai dinding belakang, sebagian gelombang suara dipantulkan kembali ke transduser, yang sekarang berfungsi sebagai penerima.
- Perhitungan: Alat ukur (gauge) mengukur dengan sangat presisi waktu yang dibutuhkan gelombang suara untuk melakukan perjalanan pulang-pergi ini. Dengan mengetahui kecepatan suara dalam material tersebut (yang telah diprogram sebelumnya), alat ini menghitung ketebalan menggunakan rumus fisika sederhana: Ketebalan = (Kecepatan Suara x Waktu) / 2.
Glosarium Istilah Kunci:
- Transduser: Perangkat yang mengubah energi listrik menjadi gelombang suara dan sebaliknya.
- Couplant: Media (biasanya gel) yang memfasilitasi transmisi suara antara transduser dan benda uji.
- A-scan: Tampilan visual pada beberapa alat canggih yang menunjukkan amplitudo gema kembali dari waktu ke waktu, berguna untuk analisis lanjutan.
- B-scan: Tampilan penampang dari benda uji, yang menunjukkan profil ketebalan di sepanjang jalur pemindaian.
Panduan Praktis: Proses Inspeksi UTM Sesuai Standar Kelas
Inspeksi UTM yang dilakukan sebagai bagian dari survei kelas (class survey) adalah proses yang sistematis dan teliti, bukan sekadar pengukuran acak. Dari perspektif surveyor, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Persiapan Permukaan: Area yang akan diukur harus bersih dari cat tebal yang mengelupas, karat berat, dan kotoran laut. Permukaan harus digerinda halus untuk memastikan kontak yang baik dengan transduser.
- Penandaan Grid: Surveyor akan menandai pola grid pada area kritis lambung, geladak, dan struktur internal sesuai dengan persyaratan badan klasifikasi. Ini memastikan cakupan pengukuran yang komprehensif dan dapat diulang.
- Kalibrasi Peralatan: Sebelum memulai, teknisi harus mengkalibrasi alat ukur ketebalan menggunakan blok kalibrasi standar dengan ketebalan yang diketahui. Langkah ini sangat penting untuk memastikan akurasi pembacaan.
- Teknik Pengukuran: Teknisi menempatkan transduser pada titik-titik yang telah ditandai di grid, mengoleskan couplant, dan mencatat pembacaan ketebalan yang stabil. Proses ini diulangi di ratusan atau bahkan ribuan titik di seluruh kapal.
- Pelaporan: Semua data yang dikumpulkan dicatat dengan cermat dalam format laporan standar yang menunjukkan lokasi, ketebalan asli (jika diketahui), ketebalan terukur, dan persentase penipisan.
Penting untuk ditekankan bahwa pekerjaan ini harus dilakukan oleh teknisi NDT yang berpengalaman dan bersertifikat (misalnya, ASNT Level II atau III) untuk memastikan keandalan dan akurasi data.
Membaca Laporan UTM: Interpretasi Data dan Batas Penipisan
Laporan UTM adalah “rekam medis” dari struktur kapal Anda. Laporan ini akan menyajikan data dalam format tabel, sering kali disertai dengan diagram skematis kapal yang menunjukkan lokasi pengukuran. Kolom kunci yang harus diperhatikan adalah “persentase penipisan” atau “wastage”.
Badan klasifikasi seperti Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) atau American Bureau of Shipping (ABS) menetapkan batas penipisan yang diizinkan untuk berbagai elemen struktur kapal. Meskipun bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis kapal, aturan umum yang sering digunakan adalah batas penipisan sekitar 20-25% dari ketebalan asli. Jika penipisan di suatu area melebihi batas ini, badan klasifikasi akan mengeluarkan rekomendasi untuk perbaikan atau penggantian baja sebelum kapal dapat mempertahankan kelasnya. Memahami laporan ini sangat penting untuk merencanakan perbaikan di galangan dan mengelola anggaran pemeliharaan.
Perisai Proaktif: Sistem Pencegahan dan Kontrol Korosi Terpadu
Mendiagnosis masalah adalah satu hal; mencegahnya adalah hal lain. Manajemen korosi yang efektif bergantung pada sistem pertahanan multi-lapis yang terpadu. Seperti yang dinyatakan dalam dokumen panduan dari badan klasifikasi terkemuka seperti ABS, lapisan pelindung (coating) adalah garis pertahanan pertama, tetapi harus didukung oleh proteksi katodik untuk efektivitas maksimum[3]. Lebih jauh lagi, standar pelapisan untuk area kritis seperti tangki balas kini diatur secara ketat oleh IMO melalui Performance Standard for Protective Coatings (PSPC), yang merupakan persyaratan wajib di bawah SOLAS[2]. Ini menegaskan bahwa sistem pencegahan berkualitas tinggi bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Sistem Pelapisan Multi-Lapis: Dari Primer Hingga Anti-Fouling
Sistem cat kapal modern jauh lebih kompleks daripada sekadar satu lapisan cat. Ini adalah sistem rekayasa yang setiap lapisannya memiliki fungsi spesifik:
- Shop Primer: Lapisan tipis yang diaplikasikan di pabrik baja untuk memberikan perlindungan sementara selama konstruksi.
- Anti-Corrosive Primer: Lapisan dasar yang paling penting. Ini dirancang untuk melekat kuat pada baja dan membentuk penghalang kedap air yang menghambat proses elektrokimia korosi.
- Tie Coat / Intermediate Coat: Lapisan ini membangun ketebalan total sistem dan memastikan daya lekat yang baik antara lapisan primer anti-korosi dan lapisan akhir.
- Anti-Fouling Paint (Lapisan Akhir Bawah Air): Mengandung biosida yang mencegah menempelnya organisme laut (teritip, alga). Ini tidak hanya melindungi lapisan di bawahnya tetapi juga menjaga kelancaran lambung untuk efisiensi bahan bakar.
Keberhasilan seluruh sistem ini bergantung pada satu faktor yang paling krusial: persiapan permukaan. Baja harus dibersihkan secara menyeluruh dari semua karat, minyak, dan kontaminan lainnya sebelum lapisan pertama diaplikasikan. Standar industri seperti SSPC-SP 10/NACE No. 2 (“Near-White Metal Blast Cleaning”) menentukan tingkat kebersihan yang diperlukan untuk memastikan daya lekat cat yang maksimal dan umur pakai yang panjang.
Proteksi Katodik: Anoda Korban vs. ICCP
Tidak peduli seberapa baik sistem pelapisannya, kerusakan kecil pasti akan terjadi. Di sinilah proteksi katodik (Cathodic Protection – CP) berperan sebagai garis pertahanan kedua. CP bekerja dengan mengubah seluruh struktur baja yang terendam menjadi katoda dalam sel elektrokimia, sehingga mencegahnya berkarat. Ada dua metode utama untuk mencapai ini:
- Anoda Korban (Sacrificial Anodes): Blok-blok logam yang lebih aktif secara elektrokimia (biasanya paduan seng atau aluminium) dilas langsung ke lambung kapal. Anoda ini “mengorbankan” diri mereka dengan berkorosi secara istimewa, sehingga melindungi baja lambung di sekitarnya. Sistem ini sederhana, tidak memerlukan daya eksternal, dan mudah dipasang, tetapi anoda perlu diganti secara berkala saat habis.
- Impressed Current Cathodic Protection (ICCP): Sistem ini menggunakan sumber daya listrik dari kapal untuk mengalirkan arus searah ke anoda inert (yang tidak habis) yang dipasang di lambung. Arus ini melawan arus korosi alami. Sebuah elektroda referensi memonitor potensial listrik lambung dan secara otomatis menyesuaikan output arus untuk memberikan perlindungan yang optimal. Sistem ICCP lebih kompleks dan mahal untuk dipasang tetapi menawarkan kontrol yang lebih presisi dan umur pakai yang lebih lama.
Pilihan antara Anoda Korban dan ICCP bergantung pada ukuran kapal, profil operasional, dan biaya siklus hidup. Namun, prinsipnya tetap sama: kombinasi sistem pelapisan berkualitas tinggi dan proteksi katodik yang dirancang dengan baik adalah strategi terbaik untuk pencegahan korosi jangka panjang.
Memilih Mitra yang Tepat: Kriteria Jasa Inspeksi dan Peralatan
Keberhasilan program manajemen integritas struktural Anda sangat bergantung pada kualitas data yang Anda terima dan keandalan peralatan yang digunakan. Memilih mitra yang tepat untuk layanan inspeksi dan pemasok peralatan adalah keputusan kritis.
Panduan Memilih Jasa Inspeksi UTM: Sertifikasi dan Persetujuan Kelas
Saat mencari penyedia jasa inspeksi ketebalan ultrasonik, jangan hanya mempertimbangkan harga. Kredibilitas dan keandalan data adalah yang terpenting. Gunakan kriteria berikut untuk mengevaluasi calon mitra:
- Persetujuan Badan Klasifikasi: Ini adalah syarat mutlak. Pastikan perusahaan tersebut diakui dan disetujui oleh badan klasifikasi utama seperti Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), ABS, DNV, Lloyd’s Register, dll. Persetujuan ini menjamin bahwa prosedur dan pelaporan mereka memenuhi standar industri yang ketat.
- Sertifikasi Teknisi: Tanyakan tentang kualifikasi teknisi mereka. Mereka harus memiliki sertifikasi NDT yang valid (misalnya, ASNT SNT-TC-1A Level II atau III dalam metode UT) yang menunjukkan kompetensi mereka dalam melakukan pengukuran dan menginterpretasikan hasil.
- Rekam Jejak dan Pengalaman: Pilih perusahaan dengan rekam jejak yang terbukti dalam menginspeksi jenis kapal yang serupa dengan milik Anda.
- Kalibrasi Peralatan: Perusahaan harus dapat memberikan catatan kalibrasi yang dapat dilacak untuk semua peralatan yang mereka gunakan.
- Kualitas Pelaporan: Mintalah contoh laporan. Laporan yang baik harus jelas, komprehensif, sesuai dengan format kelas, dan mudah dipahami.
Memahami Alat Ukur: Fitur Penting pada Ultrasonic Thickness Gauge
Meskipun Anda mungkin menyewa jasa inspeksi, memahami teknologi di baliknya akan membantu Anda mengevaluasi kualitas layanan. Saat mempertimbangkan peralatan, baik untuk tim internal maupun untuk memahami apa yang digunakan kontraktor, perhatikan fitur-fitur berikut dari produsen terkemuka seperti Olympus (Evident Scientific) atau GE:
- Corrosion Gauge vs. Precision Gauge: Untuk inspeksi lambung, corrosion gauge adalah alat yang tepat. Alat ini dirancang untuk mengukur sisa ketebalan logam pada permukaan yang kasar dan terkorosi. Precision gauge digunakan untuk aplikasi manufaktur yang membutuhkan resolusi sangat tinggi.
- Teknologi Thru-Coat: Fitur canggih ini memungkinkan alat untuk mengukur ketebalan logam sambil mengabaikan ketebalan lapisan cat atau pelapis lainnya. Ini dapat menghemat waktu dan biaya yang signifikan karena tidak perlu menggerinda cat di setiap titik pengukuran.
- Tampilan A-Scan/B-Scan: Fitur ini memberikan representasi visual dari gelombang ultrasonik, yang memungkinkan teknisi berpengalaman untuk memverifikasi bahwa pembacaan berasal dari dinding belakang logam dan bukan dari cacat internal atau laminasi.
- Pencatatan Data (Data Logging): Kemampuan untuk menyimpan ribuan pembacaan bersama dengan lokasinya dalam file yang terorganisir sangat penting untuk efisiensi dan pembuatan laporan yang akurat.
Kalibrasi yang benar adalah dasar dari setiap pengukuran yang akurat. Proses ini melibatkan pengaturan alat pada blok uji standar dengan beberapa langkah ketebalan yang diketahui untuk memastikan alat membaca secara akurat di seluruh rentang pengukurannya.
Kesimpulan: Integritas Struktural sebagai Siklus Berkelanjutan
Manajemen integritas struktural kapal bukanlah sebuah proyek dengan titik akhir, melainkan sebuah siklus berkelanjutan. Ini dimulai dengan pemahaman mendalam tentang ancaman korosi yang tak terhindarkan dan konsekuensi finansial serta keselamatannya. Siklus ini berlanjut dengan penguasaan alat diagnostik inti—inspeksi ketebalan ultrasonik (UTM)—untuk secara akurat menilai kondisi aset Anda sesuai dengan standar kelas yang ketat. Akhirnya, siklus ini ditutup dengan penerapan perisai pertahanan proaktif, yaitu sistem terpadu antara pelapisan canggih dan proteksi katodik. Panduan ini berfungsi sebagai buku pedoman esensial bagi setiap marine superintendent yang berdedikasi untuk menjaga integritas aset, memastikan kepatuhan, dan mencapai keunggulan operasional.
Untuk memenuhi kebutuhan peralatan pengukuran dan pengujian Anda, termasuk ultrasonic thickness gauge yang andal untuk inspeksi kapal, CV. Java Multi Mandiri adalah mitra terpercaya Anda. Sebagai supplier dan distributor instrumen pengukuran dan pengujian, kami menyediakan perangkat berkualitas tinggi untuk mendukung program manajemen integritas aset Anda. Untuk konsultasi mengenai peralatan yang tepat untuk kebutuhan spesifik Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami.
Rekomendasi Thickness Gauge – Alat Ukur Ketebalan
Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Multi-Mode Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Disclaimer: Information provided is for educational purposes. Always consult with certified marine surveyors, naval architects, and adhere to the latest classification society rules for specific vessel requirements.
References
- International Association of Classification Societies (IACS). (N.D.). IACS Unified Requirements (UR) – Z Series: Survey and Certification. IACS. Retrieved from https://iacs.org.uk/resolutions/unified-requirements/ur-z
- International Maritime Organization (IMO). (N.D.). Protective coatings (Performance Standard for Protective Coatings – PSPC). IMO. Retrieved from https://www.imo.org/en/OurWork/Safety/Pages/ProtectiveCoatings.aspx
- American Bureau of Shipping (ABS). (2017). Guidance Notes on Cathodic Protection of Ships. ABS. Retrieved from https://ww2.eagle.org/content/dam/eagle/rules-and-guides/current/conventional_ocean_service/289_cathodicprotectionofships_2017/cathodic-protection-gn-dec17.pdf