Lambung kapal yang menipis adalah musuh senyap di lautan. Tersembunyi di bawah garis air, proses korosi dan penipisan plat yang tak terdeteksi dapat mengancam keselamatan kru, kargo, dan kelangsungan bisnis Anda. Bagi pemilik kapal dan manajer teknis, ketidakpastian seputar standar minimum, kerumitan proses inspeksi, dan strategi perawatan yang efektif adalah tantangan operasional yang konstan. Kegagalan untuk mengelola integritas lambung bukan hanya berisiko pada kerugian finansial akibat perbaikan darurat, tetapi juga dapat berujung pada bencana.
Artikel ini adalah jawaban atas tantangan tersebut. Anggap ini sebagai manual definitif Anda untuk manajemen integritas lambung kapal. Kami akan memandu Anda melalui seluruh siklus, menghubungkan titik-titik krusial: mulai dari memahami masalah mendasar (korosi dan penipisan), melakukan diagnosis akurat (UTM), menavigasi aturan main (standar biro klasifikasi), hingga menerapkan solusi jangka panjang (perawatan dan replating). Mari kita selami setiap aspek untuk memastikan kapal Anda tetap laik laut, aman, dan efisien.
- Mengapa Ketebalan Lambung Kapal Adalah Prioritas #1 untuk Kelaiklautan
- Diagnosis Inti: Panduan Praktis Ultrasonic Thickness Measurement (UTM Kapal)
- Membaca Aturan: Standar Minimum Ketebalan Lambung Kapal Menurut BKI & IACS
- Manajemen Integritas Lambung: Dari Perawatan Rutin hingga Replating
- Memilih Mitra yang Tepat: Cara Menyeleksi Jasa Thickness Measurement Bersertifikat
- Kesimpulan: Manajemen Integritas Lambung sebagai Siklus Berkelanjutan
- Referensi dan Sumber
Mengapa Ketebalan Lambung Kapal Adalah Prioritas #1 untuk Kelaiklautan
Integritas struktural sebuah kapal dimulai dan diakhiri dengan kondisi lambungnya. Lambung adalah benteng utama yang melindungi aset bernilai miliaran dari kekuatan laut yang tak kenal ampun. Ketika benteng ini melemah, risikonya melampaui sekadar biaya perbaikan. Ini adalah tentang keselamatan, kepatuhan, dan reputasi. Memahami ancaman mendasar seperti lambung kapal korosi, penipisan plat kapal, dan risiko kegagalan struktur kapal adalah langkah pertama yang paling krusial.
Proses korosi, terutama di lingkungan air laut yang agresif, adalah reaksi elektrokimia yang secara perlahan menggerogoti baja. Ion klorida dalam air laut mempercepat proses ini, mengubah baja yang kokoh menjadi oksida besi yang rapuh. Tanpa perlindungan dan pemantauan yang tepat, penipisan ini dapat menyebabkan konsentrasi tegangan (stress concentration) pada titik-titik kritis struktur, yang pada akhirnya dapat memicu kelelahan material (material fatigue) dan kegagalan struktural yang katastropik[4]. Sistem pelapisan modern, seperti yang diatur dalam IMO Performance Standard for Protective Coatings, dirancang untuk menjadi garis pertahanan pertama melawan ancaman ini.
Ancaman Tak Terlihat: Korosi dan Penipisan Plat Kapal
Penyebab utama penipisan plat kapal adalah korosi yang berkelanjutan akibat paparan air laut. Namun, tidak semua korosi diciptakan sama. Terdapat beberapa jenis yang secara spesifik mengancam lambung kapal:
- Korosi Umum (General Corrosion): Terjadi secara seragam di seluruh permukaan plat, menyebabkan penipisan yang bertahap namun pasti.
- Korosi Sumuran (Pitting Corrosion): Jauh lebih berbahaya, korosi ini menciptakan lubang-lubang kecil yang dalam pada permukaan baja. Meskipun kehilangan logam secara total mungkin kecil, lubang ini dapat menembus plat dan menyebabkan kebocoran.
- Korosi Galvanik (Galvanic Corrosion): Terjadi ketika dua logam yang berbeda (seperti lambung baja dan baling-baling perunggu) bersentuhan dalam air laut, menyebabkan salah satu logam berkorosi lebih cepat.
Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) menetapkan batas toleransi keausan yang spesifik untuk berbagai bagian kapal. Sebagai contoh, BKI mengizinkan keausan maksimum hingga 20% untuk plat alas (bottom plate)[5]. Melebihi batas ini berarti integritas struktural kapal sudah berada di zona merah dan tindakan perbaikan menjadi wajib.
Dari Retak Halus hingga Bencana: Risiko Kegagalan Struktur Kapal
Penipisan plat yang tidak terkendali adalah resep untuk bencana. Konsekuensinya bervariasi dari masalah operasional hingga kecelakaan fatal:
- Kebocoran dan Polusi: Penipisan yang ekstrem atau korosi sumuran dapat menyebabkan kebocoran, baik air yang masuk ke dalam palka maupun muatan (seperti minyak) yang tumpah ke laut.
- Kehilangan Stabilitas: Lambung yang melemah dapat melengkung atau berubah bentuk di bawah tekanan gelombang atau beban kargo, yang secara drastis mengurangi stabilitas kapal.
- Kegagalan Struktur Katastropik: Skenario terburuk adalah ketika lambung kapal patah menjadi dua, terutama saat menghadapi cuaca buruk. Sejarah maritim telah mencatat insiden tragis seperti tenggelamnya MV Derbyshire pada tahun 1980, yang diyakini disebabkan oleh kegagalan struktur akibat kekuatan gelombang di dekat haluan. Insiden semacam ini menggarisbawahi betapa pentingnya pemantauan ketebalan lambung secara rutin untuk mencegah retakan kecil berkembang menjadi kegagalan total. Untuk pemahaman lebih lanjut mengenai perspektif regulator, AMSA Guide to Vessel Structure and Stability memberikan wawasan yang berharga.
Diagnosis Inti: Panduan Praktis Ultrasonic Thickness Measurement (UTM Kapal)
Setelah memahami risikonya, langkah selanjutnya adalah diagnosis. Bagaimana cara kita mengetahui ketebalan plat baja yang tersembunyi di balik lapisan cat tebal tanpa merusaknya? Jawabannya terletak pada teknologi canggih yang disebut Ultrasonic Thickness Measurement (UTM), sebuah metode kunci dalam inspeksi kapal. Ini adalah proses untuk “melihat” ke dalam baja dan mendapatkan data ketebalan yang akurat, yang menjadi dasar untuk semua keputusan perawatan dan perbaikan.
Apa itu Uji Non-Destruktif (NDT) dan Mengapa Ini Standar Emas?
Ultrasonic Thickness Measurement adalah salah satu bentuk dari Uji Non-Destruktif atau Non-Destructive Testing (NDT). Sesuai namanya, NDT adalah serangkaian metode analisis untuk mengevaluasi properti material atau komponen tanpa menyebabkan kerusakan[6]. Bayangkan jika satu-satunya cara untuk memeriksa ketebalan lambung adalah dengan memotong sebagian kecil plat. Proses ini tidak hanya mahal dan memakan waktu, tetapi juga akan melemahkan struktur itu sendiri.
NDT adalah standar emas dalam industri maritim, dirgantara, dan minyak & gas karena keunggulannya yang signifikan:
- Menjaga Integritas Aset: Tidak ada kerusakan pada komponen yang diuji.
- Efisiensi Biaya: Jauh lebih murah daripada pengujian destruktif dan perbaikan yang diakibatkannya.
- Keamanan: Memungkinkan deteksi cacat sebelum menjadi bencana.
- Cakupan Luas: Dapat digunakan untuk memeriksa area yang luas dengan cepat.
Selain pengujian ultrasonik (UT), metode NDT umum lainnya termasuk Magnetic Particle Testing (MPT), Liquid Penetrant Testing (LPT), dan Radiographic Testing (RT). Namun, untuk pengukuran ketebalan, UT adalah metode yang paling dominan digunakan.
Cara Kerja Alat Ukur Ketebalan Ultrasonik (UTG)
Alat Ukur Ketebalan Ultrasonik atau Ultrasonic Thickness Gauge (UTG) bekerja berdasarkan prinsip yang mirip dengan sonar atau gema. Berikut adalah cara kerjanya secara sederhana:
- Transduser (Probe): Teknisi menempatkan probe kecil yang disebut transduser pada permukaan plat.
- Emisi Gelombang Suara: Transduser mengirimkan gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi (ultrasonik) melalui plat.
- Gema (Echo): Gelombang suara ini merambat hingga mencapai sisi belakang plat (batas antara baja dan air/udara) dan kemudian memantul kembali ke transduser seperti gema.
- Perhitungan Waktu: Alat UTG mengukur dengan sangat presisi waktu yang dibutuhkan gelombang suara untuk melakukan perjalanan bolak-balik ini.
- Kalkulasi Ketebalan: Karena kecepatan suara dalam baja adalah nilai yang diketahui, alat tersebut menggunakan rumus sederhana (Jarak = Kecepatan × Waktu) untuk secara instan menghitung ketebalan plat.
Untuk memastikan akurasi, kalibrasi alat sebelum digunakan adalah langkah krusial. Teknisi akan menggunakan blok referensi dengan ketebalan yang diketahui untuk memastikan alat memberikan pembacaan yang benar. Beberapa alat canggih bahkan memiliki fitur “through-paint” yang memungkinkan pengukuran akurat tanpa harus menghilangkan lapisan cat, serta tampilan A-scan/B-scan yang memberikan gambaran visual profil material, bukan hanya angka ketebalan.
Proses Pengukuran di Lapangan: Dari Persiapan hingga Pelaporan
Pengukuran UTM di lapangan adalah proses yang metodis dan sistematis.
- Persiapan Permukaan: Ini adalah langkah yang paling penting. Permukaan plat harus bersih dari karat tebal, kotoran laut, dan cat yang mengelupas. Permukaan yang tidak rata dapat menyebabkan pembacaan yang tidak akurat.
- Aplikasi Couplant: Gel atau cairan khusus (couplant) dioleskan di antara transduser dan permukaan plat untuk menghilangkan celah udara dan memastikan transmisi gelombang suara yang efisien.
- Pengambilan Data Sesuai Grid: Pengukuran tidak dilakukan secara acak. Surveyor akan mengikuti sistem grid yang telah ditentukan pada gambar konstruksi kapal. Hal ini memastikan cakupan yang komprehensif dan data yang dapat direplikasi. Studi kasus pada kapal tanker ‘Tyche’ menunjukkan bahwa inspeksi yang menyeluruh melibatkan pengukuran di 65 titik berbeda di seluruh lambung untuk mendapatkan gambaran yang lengkap[3].
- Pencatatan dan Pelaporan: Setiap pembacaan dicatat bersama dengan lokasinya. Laporan akhir UTM akan berisi tabel data ketebalan, perbandingan dengan ketebalan asli, persentase penipisan, dan penandaan area yang memerlukan perhatian khusus atau perbaikan.
Mengatasi kesalahan umum seperti tekanan probe yang tidak konsisten atau persiapan permukaan yang buruk adalah kunci untuk mendapatkan data yang andal, yang pada akhirnya akan menentukan keselamatan dan kelaiklautan kapal.
Membaca Aturan: Standar Minimum Ketebalan Lambung Kapal Menurut BKI & IACS
Data dari UTM tidak ada artinya tanpa konteks. Konteks ini disediakan oleh biro klasifikasi—organisasi independen yang menetapkan dan menegakkan standar teknis untuk konstruksi dan operasi kapal. Mengetahui standar minimum ketebalan lambung kapal adalah informasi krusial bagi setiap pemilik kapal, karena ini menentukan kapan perbaikan besar seperti penggantian plat (replating) menjadi wajib.
Standar-standar ini tidak dibuat secara acak; mereka adalah hasil dari rekayasa ekstensif, analisis data, dan pengalaman puluhan tahun untuk memastikan kapal dapat menahan tekanan operasional selama masa pakainya. Panduan internasional seperti IACS Requirements for Hull Thickness Measurements menjadi dasar bagi banyak aturan yang diterapkan oleh biro klasifikasi nasional.
Peran Biro Klasifikasi (BKI, DNV, dll.) dalam Menentukan Standar
Biro klasifikasi seperti Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), DNV, American Bureau of Shipping (ABS), dan Lloyd’s Register memainkan peran sentral dalam keselamatan maritim. Mereka melakukan survei dan inspeksi kapal secara berkala untuk memastikan kapal memenuhi standar yang disyaratkan. Ada dua jenis survei utama:
- Survei Statutori (Statutory Survey): Dilakukan atas nama pemerintah bendera (flag state) untuk memastikan kepatuhan terhadap konvensi internasional seperti SOLAS dan MARPOL.
- Survei Kelas (Class Survey): Dilakukan untuk memastikan kapal terus memenuhi aturan dari biro klasifikasi itu sendiri, yang berkaitan dengan integritas struktural dan keandalan mesin.
Pengukuran UTM adalah komponen wajib dari Survei Khusus (Special Survey) atau Survei Pembaruan Kelas (Class Renewal Survey) yang dilakukan setiap lima tahun. Biro klasifikasi sangat ketat dalam hal siapa yang boleh melakukan pengukuran ini. DNV, misalnya, secara eksplisit menyatakan dalam aturannya (DNVGL-CP-0484) bahwa semua pengukuran ketebalan harus dilakukan oleh pemasok layanan yang telah disetujui oleh DNV[1]. Demikian pula, BKI dalam pedomannya menyatakan bahwa “Pengukuran ketebalan harus dilakukan oleh perusahaan yang memenuhi syarat yang disetujui oleh BKI”[2]. Anda dapat menjelajahi aturan lengkap mereka di DNV Rules for Ship Classification.
Menghitung Margin Korosi: Kapan Plat Harus Diganti?
Standar minimum ketebalan lambung kapal bukanlah satu angka tunggal. Angka ini berasal dari ketebalan plat asli saat kapal dibangun, dikurangi dengan “margin korosi” (corrosion allowance) yang diizinkan. Margin ini adalah jumlah penipisan yang diperkirakan akan terjadi selama masa pakai kapal.
Sebagai contoh praktis, sebuah plat lambung mungkin memiliki ketebalan asli 12 mm. Biro klasifikasi mungkin mengizinkan margin korosi sebesar 20-25%.
- Margin Korosi: 20% dari 12 mm = 2.4 mm
- Ketebalan Minimum yang Diizinkan: 12 mm – 2.4 mm = 9.6 mm
Angka 9.6 mm inilah yang sering dikutip sebagai standar minimum umum. Jika hasil UTM menunjukkan ketebalan di bawah angka ini, penggantian plat atau replating menjadi wajib.
Lebih lanjut, tingkat keausan yang diizinkan dapat bervariasi tergantung pada lokasi plat. Berdasarkan penelitian yang merujuk pada standar BKI, batas keausan maksimum adalah 20% untuk plat alas (bottom plates) tetapi bisa mencapai 30% untuk plat lajur bilga (bilge plates)[5], karena area ini mungkin mengalami tekanan yang berbeda. Memahami perhitungan ini sangat penting untuk perencanaan anggaran dan jadwal docking.
Manajemen Integritas Lambung: Dari Perawatan Rutin hingga Replating
Manajemen integritas lambung adalah pendekatan proaktif, bukan reaktif. Ini melibatkan siklus berkelanjutan dari inspeksi, perawatan, dan perbaikan untuk memperlambat laju korosi, menjaga efisiensi operasional, dan memastikan kepatuhan terhadap standar. Strategi yang solid mencakup segala hal mulai dari program pengecatan yang efektif hingga keputusan sulit untuk melakukan replating.
Program Pengecatan Efektif: Anti-Korosif vs. Anti-Fouling
Sistem pengecatan modern pada lambung kapal adalah sistem multi-lapis yang dirancang untuk tujuan berbeda. Dua lapisan terpenting adalah:
- Cat Anti-Korosif (Anti-Corrosive Paint): Diterapkan langsung di atas primer pada baja, lapisan ini berfungsi sebagai penghalang fisik dan kimia untuk mencegah air dan oksigen mencapai permukaan baja, sehingga menghentikan proses korosi.
- Cat Anti-Fouling: Ini adalah lapisan terluar. Tujuannya adalah untuk mencegah menempelnya organisme laut seperti teritip, alga, dan ganggang (biofouling). Lambung yang ditumbuhi biofouling menjadi kasar, meningkatkan hambatan di air, yang secara langsung menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar dan penurunan kecepatan.
Perawatan yang benar, seperti yang sering disarankan oleh para ahli seperti di Suzuki Marine, melibatkan pembersihan lambung secara berkala untuk menghilangkan biofouling sebelum dapat merusak lapisan cat anti-fouling. Dalam beberapa tahun terakhir, solusi yang lebih ramah lingkungan seperti cat berbasis silikon yang menciptakan permukaan licin yang sulit ditempeli organisme laut, menjadi semakin populer.
Proses Replating: Kapan dan Bagaimana Plat Lambung Diganti?
Replating adalah proses perbaikan besar di mana bagian plat lambung yang telah menipis di bawah standar minimum dipotong dan diganti dengan plat baja baru. Ini adalah pekerjaan yang intensif dan hanya dilakukan di galangan kapal (dry dock).
Pemicu untuk Replating: Keputusan untuk melakukan replating hampir selalu didasarkan pada laporan UTM dari survei kelas. Ketika surveyor menemukan area yang “substantially diminished” atau di bawah batas minimum yang diizinkan, mereka akan mengeluarkan rekomendasi untuk penggantian.
Proses Umum Replating:
- Identifikasi: Area yang akan diganti ditandai dengan jelas.
- Pemotongan: Plat lama dipotong menggunakan alat potong plasma atau gas.
- Fabrikasi: Plat baja baru dengan spesifikasi yang sama dipotong dan dibentuk agar pas dengan sempurna.
- Pengelasan: Plat baru dilas ke struktur kapal sekitarnya oleh welder bersertifikat, mengikuti prosedur pengelasan yang ketat untuk memastikan kekuatan dan kekedapan.
- Inspeksi Las: Sambungan las diperiksa menggunakan metode NDT (seperti Magnetic Particle atau Radiographic Testing) untuk memastikan tidak ada cacat.
- Pelapisan Ulang: Area yang diperbaiki kemudian dilapisi kembali dengan sistem cat multi-lapis yang lengkap (primer, anti-korosif, anti-fouling).
Meskipun mahal dan memakan waktu, replating adalah prosedur penting untuk memulihkan integritas struktural kapal dan memperpanjang masa pakainya secara signifikan.
Memilih Mitra yang Tepat: Cara Menyeleksi Jasa Thickness Measurement Bersertifikat
Kualitas dan keandalan data UTM Anda bergantung sepenuhnya pada kompetensi penyedia jasa yang Anda pilih. Memilih mitra yang salah tidak hanya membuang-buang uang, tetapi juga dapat memberikan rasa aman yang palsu, menempatkan kapal dan kru Anda dalam risiko. Seleksi vendor untuk jasa thickness measurement harus menjadi proses yang cermat, dengan fokus pada sertifikasi, persetujuan, dan rekam jejak yang terbukti.
Kriteria Wajib: Sertifikasi dan Persetujuan Biro Klasifikasi
Ini adalah kriteria yang tidak bisa ditawar. Seperti yang telah disebutkan, biro klasifikasi terkemuka secara eksplisit mewajibkan penggunaan vendor yang telah mereka setujui.
- Persetujuan DNV: Sesuai aturan DNVGL-CP-0484, hanya perusahaan yang memegang sertifikat DNV yang valid yang diizinkan melakukan pengukuran untuk kapal berkelas DNV[1].
- Persetujuan BKI: Pedoman BKI Section 2.B.1 juga mensyaratkan penggunaan perusahaan yang disetujui oleh BKI[2].
Selain persetujuan perusahaan, pastikan teknisi individu yang akan bekerja di kapal Anda memiliki sertifikasi personel yang relevan, seperti ISO 9712 dalam metode UT. Ini menjamin bahwa mereka telah melalui pelatihan dan pengujian yang ketat dalam teori dan praktik pengujian ultrasonik. Selalu minta bukti persetujuan biro klasifikasi dan sertifikasi teknisi sebelum menandatangani kontrak.
Pertanyaan Kunci untuk Calon Penyedia Jasa Anda
Untuk mengevaluasi calon vendor lebih lanjut, siapkan daftar pertanyaan kunci ini:
- Persetujuan & Sertifikasi: “Dapatkah Anda memberikan salinan sertifikat persetujuan Anda dari biro klasifikasi kapal kami (misalnya, BKI, DNV, ABS)?”
- Pengalaman: “Berapa banyak kapal sejenis dengan kapal kami yang telah Anda inspeksi dalam setahun terakhir?”
- Teknologi: “Jenis alat UTG apa yang Anda gunakan? Apakah memiliki kemampuan through-paint atau A-scan/B-scan?”
- Pelaporan: “Bisakah Anda memberikan contoh laporan UTM Anda? Format apa yang Anda gunakan (misalnya, PDF, platform digital)?”
- Prosedur: “Bagaimana prosedur Anda untuk persiapan permukaan dan kalibrasi alat di lapangan?”
- Struktur Biaya: “Bagaimana struktur biaya Anda? Apakah per hari, per titik pengukuran, atau harga tetap? Apa saja yang termasuk dan tidak termasuk?”
Memilih penyedia jasa yang tepat, yang menggunakan teknologi modern seperti platform pelaporan digital dan memiliki rekam jejak yang solid, adalah investasi dalam keselamatan dan kepatuhan jangka panjang kapal Anda.
Kesimpulan: Manajemen Integritas Lambung sebagai Siklus Berkelanjutan
Manajemen ketebalan lambung kapal bukanlah tugas satu kali, melainkan sebuah siklus berkelanjutan yang fundamental bagi operasi maritim yang aman dan efisien. Seperti yang telah kita bahas, siklus ini mencakup pemahaman mendalam tentang Ancaman korosi yang tak henti-hentinya, melakukan Diagnosis yang akurat melalui UTM, mematuhi Aturan yang ditetapkan oleh biro klasifikasi seperti BKI dan IACS, dan menerapkan Solusi proaktif melalui perawatan dan replating. Mengabaikan salah satu bagian dari siklus ini berarti membuka pintu bagi risiko yang tidak perlu.
Dengan menjadikan panduan ini sebagai manual operasional Anda, Anda dapat beralih dari sekadar bereaksi terhadap masalah menjadi secara proaktif mengelola aset paling vital Anda. Integritas lambung yang terjaga dengan baik bukan hanya tentang melewati inspeksi; ini adalah fondasi dari operasi yang andal, efisien, dan yang terpenting, aman.
Untuk memastikan program inspeksi Anda menggunakan peralatan yang paling andal dan akurat, menemukan pemasok yang tepat adalah kuncinya. CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor terpercaya untuk berbagai instrumen pengukuran dan pengujian, termasuk alat ukur ketebalan ultrasonik (Ultrasonic Thickness Gauge) terkemuka di industri. Kami bukan penyedia jasa pengujian, melainkan mitra Anda dalam memenuhi kebutuhan peralatan NDT berkualitas tinggi. Jika Anda memerlukan alat yang tepat untuk mendukung program manajemen integritas lambung Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami.
Artikel ini bertujuan sebagai panduan informasi. Untuk keputusan operasional, selalu merujuk pada peraturan resmi terbaru dari Biro Klasifikasi yang relevan (BKI, DNV, dll.) dan konsultasikan dengan surveyor kelautan bersertifikat.
Referensi dan Sumber
- DNV. (N.D.). Ultrasonic Thickness Measurements (UTM). DNV. Diakses dari https://www.dnv.com/maritime/utm/
- Biro Klasifikasi Indonesia. (2015). GUIDELINES FOR THE CLASSIFICATION AND CONSTRUCTION PART 1. SEAGOING SHIPS VOLUME 11 GUIDELINES FOR CONDITION ASSESSMENT PROGRAM 2015 EDITION. Diakses dari https://rules-api.bki.co.id/v1/publication?path=…
- ResearchGate. (2023). Identifikasi Tebal Plat Lambung Kapal Tanker Tyche IMO 8794891 Dengan Ultrasonic Thicness Gauge. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/367406656_Identifikasi_Tebal_Plat_Lambung_Kapal_Tanker_Tyche_IMO_8794891_Dengan_Ultrasonic_Thicness_Gauge
- E-Journal UNDIP. (N.D.). Analisa Kegagalan Material Akibat Fatik (Kelelahan). Diakses dari https://ejournal.undip.ac.id/index.php/kapal/article/download/23161/15635
- ITS Repository. (N.D.). Analisa Teknis Penggantian Pelat Lajur Bilga pada KM. Tanto Jaya di PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO). Diakses dari https://repository.its.ac.id/62430/1/6108030051-Non%20Degree%20Thesis.pdf
- SUCOFINDO. (N.D.). Jenis-jenis NDT Testing dalam Mengevaluasi Suatu Material. Diakses dari https://www.sucofindo.co.id/artikel-1/mineral/inspeksi-dan-audit-12/jenis-jenis-ndt-testing-dalam-mengevaluasi-suatu-material/