Panduan Lengkap Pengukuran Getaran Genset untuk Pemeliharaan Prediktif & HSE

Maintenance engineer using a portable vibration analyzer on a diesel generator for predictive maintenance and HSE compliance.

Bayangkan sebuah rest area tol yang ramai tiba-tiba kehilangan daya. Sistem penerangan, pendingin ruangan, dan mesin pembayaran mati. Kekacauan dan ketidaknyamanan melanda pengguna jalan, sementara reputasi pengelola fasilitas terancam. Seringkali, akar masalahnya bukanlah kegagalan total genset, melainkan getaran berlebih yang tidak terdeteksi yang secara diam-diam merusak bearing, mengendorkan mounting, dan akhirnya mengakibatkan downtime operasional yang mahal dan potensi pelanggaran standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) atau HSE.

Bagi teknisi, supervisor pemeliharaan, dan manajer fasilitas di lingkungan infrastruktur tol, pemahaman tentang getaran genset seringkali terfragmentasi. Informasi tentang standar, prosedur pengukuran yang benar, interpretasi data, dan integrasinya dengan program HSE tersebar di berbagai sumber. Artikel ini hadir sebagai panduan teknis terpadu yang definitif. Kami akan merangkai seluruh alur kerja kritis: mulai dari standar internasional (ISO), protokol pengukuran langkah demi langkah, interpretasi data untuk pemeliharaan prediktif, diagnosis masalah, hingga penyatuannya dalam kerangka HSE proyek tol. Inilah panduan “dari data ke tindakan” untuk memastikan keandalan aset, mencegah kerugian finansial, dan mencapai kepatuhan keselamatan tertinggi.

  1. Mengapa Pengukuran Getaran Genset Penting? Dasar-Dasar dan Manfaat
    1. Apa Itu Getaran Genset dan Bagaimana Terjadinya?
    2. Dampak Getaran Berlebih: Dari Kerusakan Komponen hingga Pelanggaran HSE
  2. Standar dan Prosedur Pengukuran Getaran Genset yang Akurat (Langkah Demi Langkah)
    1. Standar Acuan: ISO 8528-9, ISO 10816, dan Regulasi Indonesia (SNI)
    2. Alat yang Diperlukan: Vibration Tester dan Perangkat Pendukung
    3. Menentukan Titik Pengukuran (P-01, P-02, P-03, P-04) dan Arah
    4. Checklist dan Prosedur Pengukuran Langkah demi Langkah di Lapangan
  3. Interpretasi Data Getaran: Dari Pembacaan (mm/s) ke Keputusan Pemeliharaan
    1. Memahami Parameter Getaran: Velocity (mm/s), Frekuensi, dan Amplitudo
    2. Klasifikasi Tingkat Keparahan Getaran Berdasarkan ISO 10816
    3. Contoh Data dan Studi Kasus: Analisis Pembacaan di Rest Area
  4. Diagnosis dan Solusi: Menangani Getaran Berlebih pada Genset Rest Area
    1. 5 Penyebab Umum Getaran Berlebih dan Ciri-Cirinya
    2. Langkah-Langkah Diagnosis Cepat di Lapangan untuk Teknisi
    3. Rencana Tindakan dan Solusi Perbaikan
  5. Integrasi Pengukuran Getaran dalam Sistem HSE/K3L Kontraktor Tol
    1. Regulasi Indonesia: PP No.50/2012 tentang SMK3L dan SNI Terkait
    2. Dokumentasi dan Pelaporan: Menghubungkan Data Teknis dengan Kepatuhan
    3. Checklist Inspeksi HSE Rutin untuk Genset Rest Area
  6. Alat dan Teknologi Lanjutan untuk Pemantauan Getaran Berkelanjutan
    1. Sistem Pemantauan Getaran Permanen (Online Vibration Monitoring)
    2. Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur Getaran Portabel
  7. Kesimpulan
  8. Referensi

Mengapa Pengukuran Getaran Genset Penting? Dasar-Dasar dan Manfaat

Pada intinya, getaran pada genset adalah respons dinamis dari mesin terhadap gaya-gaya internal yang dihasilkan selama operasi. Pengukuran getaran bukanlah sekadar rutinitas teknis; ini adalah diagnostik kesehatan yang vital untuk aset kritis Anda. Dalam konteks operasional rest area tol, dimana genset berfungsi sebagai penopang cadangan listrik yang harus siap setiap saat, pemahaman ini menjadi fondasi program pemeliharaan yang efektif dan hemat biaya.

Apa Itu Getaran Genset dan Bagaimana Terjadinya?

Getaran pada genset diesel utamanya bersumber dari dua hal: gerakan reciprocating (bolak-balik) dari piston, batang penghubung, dan mekanisme katup; serta ketidakseimbangan rotasi pada rotor alternator dan poros engkol. Gaya-gaya ini, jika tidak dikendalikan dengan baik, akan merambat melalui struktur mesin dan fondasinya. Pengukuran getaran bertujuan untuk mengkuantifikasi energi dari gerakan bolak-balik atau berputar ini sebelum menyebabkan kerusakan sekunder. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Innovative Science and Research Technology menekankan bahwa parameter getaran, khususnya kecepatan getaran (velocity) dalam mm/s, adalah indikator kunci kondisi mesin yang dapat dikumpulkan secara real-time untuk memprediksi kebutuhan perawatan [3].

Dampak Getaran Berlebih: Dari Kerusakan Komponen hingga Pelanggaran HSE

Dampak getaran berlebih bersifat progresif dan destruktif. Awalnya, bantalan (bearing) akan mengalami keausan prematur, diikuti oleh retak pada rumah bearing, kebocoran seal, dan misalignment poros. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan peningkatan biaya perawatan yang signifikan, pengurangan umur pakai genset hingga 50%, dan risiko kegagalan total yang tak terduga.

Lebih dari sekadar kerusakan mesin, getaran berlebih menciptakan lingkungan kerja yang berbahaya. Kebisingan tingkat tinggi, potensi lepasnya komponen, dan kelelahan material struktur fondasi dapat mengarah pada insiden keselamatan kerja. Dalam kerangka Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012, pengendalian risiko fisik seperti getaran adalah kewajiban. Kegagalan dalam memantau dan mengendalikannya dapat dianggap sebagai pelanggaran standar HSE, yang berimplikasi pada sanksi administratif dan reputasi kontraktor. Untuk pemahaman lebih mendalam tentang pengendalian risiko getaran di tempat kerja, pedoman dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menyediakan kerangka kerja yang komprehensif [4].

Standar dan Prosedur Pengukuran Getaran Genset yang Akurat (Langkah Demi Langkah)

Melakukan pengukuran getaran yang akurat dan valid memerlukan disiplin dalam mengikuti standar, menggunakan alat yang tepat, dan menjalankan prosedur baku. Bagian ini dirancang sebagai panduan lapangan yang dapat ditindaklanjuti.

Standar Acuan: ISO 8528-9, ISO 10816, dan Regulasi Indonesia (SNI)

Sebelum mengambil alat, pahami acuannya. Standar internasional yang menjadi rujukan utama adalah ISO 8528-9:2017, yang secara spesifik menggambarkan prosedur untuk mengukur dan mengevaluasi getaran mekanik eksternal dari set pembangkit listrik (genset) [1]. Standar ini secara eksplisit menyatakan: “Jika memungkinkan, pengukuran harus dilakukan pada titik-titik ini dalam tiga arah utama, yang didefinisikan oleh x, y, dan z” [1].

Untuk interpretasi tingkat keparahan, ISO 10816 seri (khususnya bagian untuk mesin reciprocating) memberikan klasifikasi zona. Di tingkat nasional, kepatuhan terhadap SNI 19-1961-1990 tentang Peraturan Khusus Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta penerapan SMK3L berdasarkan PP No. 50/2012, adalah mandatory dalam proyek-proyek infrastruktur pemerintah seperti jalan tol. Standar-standar ini secara kolektif membentuk landasan hukum dan teknis yang kuat untuk program pemantauan getaran Anda. Untuk eksplorasi lebih detail tentang penerapan ISO 10816, dokumentasi dari badan pengatur internasional dapat menjadi referensi tambahan [5].

Alat yang Diperlukan: Vibration Tester dan Perangkat Pendukung

Akurasi data dimulai dari alat yang terkalibrasi. Perlengkapan inti meliputi:

  1. Vibration Tester/Analyzer Portabel: Seperti model VM-6370 atau VM-6380 yang mampu mengukur parameter velocity (mm/s) dan frekuensi. Pastikan alat dalam kondisi terkalibrasi.
  2. Sensor (Transduser) Getaran: Probe magnetik atau sensor dengan mounting magnet untuk menempel pada titik ukur.
  3. Perangkat Pendukung: Tachometer (untuk mengkonfirmasi RPM), ampermeter (untuk memastikan genset beroperasi pada beban yang konsisten selama pengukuran), dan stopwatch.

Menentukan Titik Pengukuran (P-01, P-02, P-03, P-04) dan Arah

ISO 8528-9 merekomendasikan titik pengukuran pada struktur yang kaku dari genset, biasanya pada base frame atau rumah bearing, untuk mendapatkan pembacaan yang representatif [1]. Dalam praktik tekns, empat titik utama (P-01 hingga P-04) pada base mesin genset sering digunakan, dengan pengukuran pada setiap titik dilakukan dalam tiga arah orthogonal:

  • Aksial (X): Searah dengan poros mesin.
  • Vertikal (Y): Tegak lurus ke atas.
  • Horizontal (Z): Tegak lurus menyamping (lateral).

Diagram dan Panduan Visual Posisi Titik Pengukuran

Meskipun artikel ini tidak dapat menampilkan gambar, berikut deskripsi tekstual berdasarkan rekomendasi standar dan praktik industri:

  • P-01 & P-02: Terletak pada base frame dekat bearing utama engine (flywheel end dan fan end), pada permukaan datar yang kokoh. P-01 biasanya di sisi yang berdekatan dengan alternator.
  • P-03 & P-04: Terletak pada base frame dekat kaki mounting alternator, di sisi yang berseberangan. Titik-titik ini membantu menangkap karakteristik getaran dari unit alternator.

Sensor harus ditempatkan dengan kokoh pada permukaan bersih dan datar. Hindari mengukur pada cover atau panel tipis yang dapat beresonansi.

Checklist dan Prosedur Pengukuran Langsung di Lapangan

  1. Persiapan & Keselamatan: Pastikan genset beroperasi pada kondisi tunak (stabil), biasanya pada beban 70-80%, dan suhu kerja normal. Kenakan APD lengkap (pelindung telinga, sepatu safety).
  2. Pencatatan Kondisi Awal: Catat model genset, kapasitas, jam operasi, beban (dalam kW atau Ampere), dan suhu lingkungan.
  3. Penempatan Sensor: Tempelkan sensor secara kuat pada titik P-01, arah vertikal (Y). Pastikan koneksi kabel aman.
  4. Pengambilan Data: Aktifkan vibration tester, atur ke pengukuran velocity (mm/s) RMS. Ambil data selama time domain yang cukup, umumnya 10-60 detik, untuk menangkap sinyal yang stabil. Catat nilai yang terbaca.
  5. Pengulangan: Ulangi langkah 3 & 4 untuk arah horizontal (Z) dan aksial (X) pada titik P-01. Kemudian, lakukan hal yang sama untuk titik P-02, P-03, dan P-04.
  6. Dokumentasi: Isi formulir pencatatan dengan rapi, mencantumkan nilai untuk setiap titik dan arah.

Interpretasi Data Getaran: Dari Pembacaan (mm/s) ke Keputusan Pemeliharaan

Mendapatkan angka hanyalah setengah perjalanan. Keahlian sejati terletak pada kemampuan menerjemahkan angka-angka ini menjadi gambaran kondisi mesin dan rekomendasi tindakan yang jelas.

Memahami Parameter Getaran: Velocity (mm/s), Frekuensi, dan Amplitudo

Untuk pemantauan kondisi rutin genset, parameter Velocity (kecepatan getaran) dalam mm/s (Root Mean Square – RMS) adalah yang paling umum digunakan. Parameter ini efektif untuk mendeteksi masalah seperti ketidakseimbangan, misalignment, dan kerusakan bearing pada rentang frekuensi menengah (10 Hz hingga 1 kHz) yang dominan pada mesin genset. Penelitian oleh Olokede dan Ashigwuike menggunakan parameter ini untuk mengembangkan algoritma pemeliharaan prediktif, dengan rentang 0.5–0.8 mm/s dianggap normal untuk sebuah genset 500kVA [3].

Klasifikasi Tingkat Keparahan Getaran Berdasarkan ISO 10816

ISO 10816 menyediakan panduan dengan membagi kondisi mesin ke dalam empat zona berdasarkan nilai velocity yang terukur [2]:

  • Zona A (Baik): Getaran pada tingkat baru, dalam kondisi sangat baik.
  • Zona B (Cukup/Diterima): Getaran pada tingkat yang diizinkan untuk operasi jangka panjang tanpa batasan.
  • Zona C (Tidak Disarankan): Getaran yang cukup tinggi. Mesin dapat dioperasikan untuk waktu terbatas, tetapi rencana perbaikan harus disusun.
  • Zona D (Berbahaya): Getaran pada tingkat yang berisiko menyebabkan kerusakan. Operasi harus dihentikan segera.

Nilai ambang batas antar zona berbeda-beda tergantung jenis mesin, kapasitas, dan fondasinya. Untuk genset berukuran menengah, nilai >7.1 mm/s RMS sering dijadikan patokan awal Zona C/D, namun konsultasi dengan panduan pabrik dan standar spesifik sangat penting.

Contoh Data dan Studi Kasus: Analisis Pembacaan di Rest Area

Mari analisis data sederhana dari sebuah genset di rest area (sebagai ilustrasi):

  • P-01 Vertikal: 2.1 mm/s
  • P-01 Horizontal: 4.5 mm/s
  • P-01 Aksial: 1.8 mm/s
  • P-03 Vertikal: 12.5 mm/s (Nilai tinggi!)
  • P-03 Horizontal: 5.2 mm/s

Interpretasi: Pembacaan pada P-01 dan P-03 horizontal masih dalam Zona B (diterima). Namun, nilai 12.5 mm/s pada P-03 Vertikal kemungkinan masuk Zona C/D. Tingginya getaran secara dominan pada satu titik dan satu arah mengindikasikan kemungkinan masalah lokal seperti mounting alternator yang longgar atau ketidakseimbangan pada rotor alternator. Tindakan prioritas adalah pemeriksaan fisik pada mounting dan kesejajaran alternator sebelum melanjutkan operasi jangka panjang.

Diagnosis dan Solusi: Menangani Getaran Berlebih pada Genset Rest Area

Ketika data menunjukkan getaran berlebih (Zona C/D), diperlukan pendekatan diagnosis yang sistematis untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menentukan solusi yang tepat.

5 Penyebab Umum Getaran Berlebih dan Ciri-Cirinya

  1. Ketidakseimbangan Massa Rotor: Penyebab paling umum. Gejala: Getaran tinggi pada frekuensi 1x RPM, dominan pada arah radial.
  2. Kerusakan atau Misalignment Bearing: Getaran tinggi dengan komponen frekuensi tinggi, sering disertai suara mendesis atau derit.
  3. Kopling Aus atau Tidak Sejajar (Misalignment): Menghasilkan getaran tinggi pada frekuensi 1x dan 2x RPM, kuat pada arah aksial dan radial.
  4. Masalah Mekanis Internal (Piston, Ring, Injector): Getaran dengan pola kompleks, sering dikaitkan dengan perubahan suara mesin dan performa.
  5. Fondasi atau Mounting Tidak Kokoh: Getaran struktur yang tinggi, biasanya pada frekuensi rendah. Getaran terasa kuat pada struktur di sekitar genset.

Langkah-Langkah Diagnosis Cepat di Lapangan untuk Teknisi

  1. Verifikasi Data: Ulangi pengukuran untuk memastikan konsistensi.
  2. Pemeriksaan Visual & Fisik: Periksa kekencangan semua baut mounting engine dan alternator, kondisi kaki anti-vibration mount (jika ada), dan keberadaan celah antara baseframe dengan fondasi.
  3. Pemeriksaan Mekanis Sederhana: Dengan mesin mati, coba goyangkan pulley dan kopling secara manual untuk merasakan kelonggaran bearing.
  4. Analisis Pola: Bandingkan tingkat getaran antar titik dan arah. Getaran tinggi hanya pada satu titik mengarah ke masalah lokal (mounting). Getaran tinggi secara merata mengarah ke masalah rotasional (ketidakseimbangan).

Rencana Tindakan dan Solusi Perbaikan

  • Untuk mounting longgar: Kencangkan sesuai torsi spesifikasi pabrik.
  • Untuk dugaan ketidakseimbangan atau misalignment: Hentikan operasi. Penyelesaiannya memerlukan keterlibatan teknisi ahli dengan alat khusus (dynamic balancing equipment, laser alignment tool). Tidak disarankan untuk dikerjakan oleh personel tanpa kompetensi.
  • Untuk fondasi lemah: Evaluasi oleh engineer sipil untuk perkuatan struktur.

Prosedur perbaikan yang aman harus selalu menjadi prioritas, mengikuti lock-out tag-out (LOTO) dan protokol keselamatan kerja.

Integrasi Pengukuran Getaran dalam Sistem HSE/K3L Kontraktor Tol

Prosedur teknis yang baik harus terdokumentasi dan terintegrasi dalam sistem manajemen. Inilah yang mengubah aktivitas pengukuran dari sekadar “pekerjaan teknisi” menjadi “bukti kepatuhan organisasi”.

Regulasi Indonesia: PP No.50/2012 tentang SMK3L dan SNI Terkait

PP No. 50/2012 mewajibkan setiap perusahaan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan potensi bahaya di tempat kerja, termasuk bahaya fisik seperti getaran yang dapat menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Pengukuran getaran genset yang terdokumentasi adalah bentuk konkret dari pengendalian bahaya tersebut. SNI 19-1961-1990 memperkuat kerangka ini dengan peraturan khusus di lokasi kerja.

Dokumentasi dan Pelaporan: Menghubungkan Data Teknis dengan Kepatuhan

Laporan pengukuran getaran harus dirancang untuk memenuhi dua tujuan: teknis dan HSE. Formatnya harus mencakup:

  • Informasi Aset & Kondisi Operasi.
  • Tabel Data Pengukuran (Titik, Arah, Nilai mm/s).
  • Analisis & Interpretasi (Perbandingan dengan standar/batas, identifikasi zona).
  • Rekomendasi Tindak Lanjut Teknis.
  • Penilaian Risiko HSE (Misal: “Jika tidak ditindaklanjuti, berpotensi menyebabkan kerusakan bearing yang dapat mengakibatkan pelepasan komponen secara tiba-tiba”).
  • Rencana Tindak Lanjut & Tenggat Waktu.

Dokumen ini kemudian menjadi lampiran dalam laporan inspeksi rutin HSE dan arsip program pemeliharaan prediktif.

Checklist Inspeksi HSE Rutin untuk Genset Rest Area

Checklist gabungan ini memastikan inspeksi menyeluruh:

  • Aspek Teknis: Getaran berlebih (berdasarkan pengukuran/baseline), kebocoran oli/bahan bakar, suhu operasi normal, suara tidak biasa, kekencangan mounting.
  • Aspek HSE: Housekeeping area genset bersih dari bahan mudah terbakar, signage peringatan “Bahaya Listrik” dan “Bising” terpasang, APD (pelindung telinga, sepatu safety) tersedia dan digunakan, jalur evakuasi tidak terhalang, sistem pemadam kebakaran tersedia dan siap pakai.

Checklist semacam ini, yang diisi secara periodik, adalah bukti pelaksanaan pengendalian risiko yang proaktif.

Alat dan Teknologi Lanjutan untuk Pemantauan Getaran Berkelanjutan

Untuk fasilitas kritis dengan genset yang beroperasi terus menerus atau sebagai cadangan vital, pendekatan pengukuran periodik mungkin tidak cukup. Sistem pemantauan berkelanjutan menawarkan tingkat proteksi yang lebih tinggi.

Sistem Pemantauan Getaran Permanen (Online Vibration Monitoring)

Sistem ini terdiri dari sensor yang dipasang permanen pada titik-titik kritis genset, terhubung ke data logger atau sistem SCADA. Keunggulannya adalah:

  • Deteksi Dini Real-Time: Dapat mengirimkan alarm segera saat getaran melebihi ambang batas, bahkan di luar jam kerja.
  • Analisis Tren: Memantau perkembangan kondisi mesin dari waktu ke waktu, memungkinkan perencanaan perawatan yang lebih presisi.
  • Pengurangan Biaya Inspeksi Manual: Data tersedia secara remote.

Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur Getaran Portabel

Akurasi seluruh program pemeliharaan prediktif Anda bergantung pada akurasi alat ukur. Vibration tester portabel harus dikalibrasi secara rutin oleh laboratorium terakreditasi, biasanya setiap 12 bulan, sesuai dengan standar seperti SNI ISO 10012. Tanpa kalibrasi, data yang Anda kumpulkan dan analisis yang Anda buat dapat menyesatkan, berpotensi menyebabkan keputusan perawatan yang salah dan membahayakan aset serta keselamatan.

Kesimpulan

Pengukuran getaran genset adalah jembatan antara operasi rutin dan keandalan aset jangka panjang. Melalui panduan terpadu ini, kita telah menelusuri jalur lengkap: mulai dari memahami dampak destruktif getaran berlebih, menguasai prosedur pengukuran sesuai standar ISO 8528-9 di titik P-01 hingga P-04, menginterpretasi data velocity (mm/s) dengan kaca mata ISO 10816, mendiagnosis lima penyebab umum masalah, hingga mengintegrasikan seluruh proses ke dalam kerangka dokumentasi dan kepatuhan HSE proyek tol. Pendekatan ini mengubah data mentah menjadi rencana aksi pencegahan yang jelas, melindungi investasi, mencegah downtime yang mahal, dan yang terpenting, menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.

Sebagai mitra bisnis Anda dalam mengoptimalkan operasional industri, CV. Java Multi Mandiri menyediakan solusi peralatan ukur dan uji yang tepat guna untuk mendukung program pemeliharaan prediktif dan kepatuhan HSE perusahaan. Kami memahami kebutuhan teknis kontraktor dan pengelola fasilitas seperti rest area tol. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik alat pengukur getaran (vibration tester) atau konsultasi solusi teknis lainnya, tim ahli kami siap membantu melalui halaman konsultasi solusi bisnis.

Disclaimer:
Informasi ini disediakan untuk tujuan edukasi dan referensi teknis. Selalu konsultasikan dengan ahli bersertifikat, ikuti panduan pabrik genset, dan patuhi peraturan K3 (HSE) yang berlaku. Penulis dan penerbit tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kecelakaan yang timbul dari penerapan informasi ini.

Rekomendasi Portable Vibration Meter

Portable Vibration Meter

Alat Ukur Getaran MITECH MV 800C

Rp16,615,000.00

Referensi

  1. International Organization for Standardization. (2017). ISO 8528-9:2017 Reciprocating internal combustion engine driven alternating current generating sets — Part 9: Measurement and evaluation of mechanical vibrations. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/63995/21062d0af0714d54affab614feb800f5/ISO-8528-9-2017.pdf
  2. VIBSENS. (N.D.). ISO10816 Charts. Retrieved from https://www.vibsens.com/index.php/en/knowledge-base/iso10816-iso7919-charts/iso10816-charts
  3. Olokede, O., & Ashigwuike, E. (2025). Development of a Predictive Maintenance Algorithm for a Diesel Generator using Machine Learning. International Journal of Innovative Science and Research Technology. Retrieved from https://www.ijisrt.com/assets/upload/files/IJISRT25MAR1226.pdf
  4. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2006). Criteria for a Recommended Standard: Occupational Exposure to Hand-Arm Vibration. Retrieved from https://www.cdc.gov/niosh/docs/2006-140/pdfs/2006-140.pdf
  5. U.S. Nuclear Regulatory Commission. (N.D.). Document referencing ISO 10816 application. Retrieved from https://www.nrc.gov/docs/ML1318/ML13182A536.pdf
  6. U.S. Bureau of Reclamation. (N.D.). Predictive Maintenance Program Final Report. Retrieved from https://data.usbr.gov/rise/content-rise-public/rise/catalog-item/binary/S&T%20Project%2020203%20Final%20Report%20Predictive%20Maintenance%20Program.pdf