Kegagalan struktur sebuah bangunan atau jembatan bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga potensi bencana yang mengancam nyawa. Di jantung setiap konstruksi yang kokoh, terdapat material fundamental: baja. Namun, bagaimana Anda bisa yakin bahwa baja yang tiba di proyek Anda benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan? Di tengah rantai pasok yang kompleks dan variasi standar, memastikan kualitas baja menjadi tantangan krusial bagi setiap manajer proyek dan insinyur di Indonesia.
Kekhawatiran akan ketebalan baja yang tidak sesuai, sertifikat pabrikan yang meragukan, atau risiko korosi yang tersembunyi adalah masalah nyata di lapangan. Artikel ini adalah jawaban atas tantangan tersebut. Anggap ini sebagai panduan lapangan definitif Anda, yang dirancang khusus untuk para profesional konstruksi di Indonesia. Kami akan memandu Anda melalui setiap langkah proses kontrol kualitas (QC) baja, mulai dari memahami standar SNI, memverifikasi dokumen, menguasai alat uji seperti thickness gauge, hingga menangani material yang tidak sesuai spesifikasi. Mari kita bangun fondasi proyek yang aman dan andal, dimulai dari kualitas baja yang terverifikasi.
- Mengapa Kontrol Kualitas Baja Krusial untuk Proyek Konstruksi?
- Memahami Standar Baja: Panduan Praktis SNI & Internasional
- Proses Inspeksi Baja Lengkap: Dari Sertifikat hingga Lapangan
- Alat & Teknik Utama: Menguasai Uji Ketebalan Baja
- Menangani Masalah: Panduan Mengatasi Baja Tidak Sesuai Spek
- Kesimpulan: Kualitas Baja Adalah Fondasi Keberhasilan Proyek
- References
Mengapa Kontrol Kualitas Baja Krusial untuk Proyek Konstruksi?
Kontrol kualitas (QC) baja bukanlah sekadar formalitas birokrasi; ini adalah pilar utama yang menopang keselamatan, anggaran, dan reputasi sebuah proyek konstruksi. Mengabaikan proses ini sama saja dengan menanam bom waktu yang dapat berujung pada kegagalan struktur baja yang katastrofal. Pentingnya kontrol kualitas baja proyek dapat dilihat dari tiga aspek fundamental.
Pertama, keselamatan. Baja adalah tulang punggung struktur, menahan beban dan tekanan setiap hari. Baja yang kualitasnya di bawah standar—baik karena komposisi kimia yang salah, dimensi yang tidak akurat, atau cacat tersembunyi—memiliki kapasitas menahan beban yang jauh lebih rendah. Sejarah rekayasa telah mencatat berbagai insiden tragis akibat kegagalan material. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah keruntuhan jembatan I-35W di Mississippi, Amerika Serikat, yang salah satu faktornya adalah pelat baja penghubung yang ukurannya tidak memadai untuk menahan beban yang terus meningkat[1]. Ini menjadi pengingat nyata bahwa setiap milimeter ketebalan dan setiap persen komposisi material sangat berarti.
Kedua, efisiensi biaya. Meskipun terlihat seperti biaya tambahan, QC yang ketat sebenarnya merupakan investasi yang sangat menguntungkan. Pengerjaan ulang (rework) akibat penggunaan material yang cacat atau tidak sesuai spesifikasi dapat memakan biaya yang sangat besar, diperkirakan mencapai 5-10% dari total biaya proyek. Biaya ini mencakup pembongkaran, pembelian material baru, dan keterlambatan jadwal yang signifikan. Memastikan kualitas baja konstruksi sejak awal adalah cara paling efektif untuk menghindari pembengkakan anggaran dan menjaga proyek tetap berjalan sesuai rencana.
Ketiga, reputasi dan umur pakai bangunan. Sebuah bangunan yang dibangun dengan material berkualitas tinggi akan memiliki umur pakai yang lebih panjang dan biaya perawatan yang lebih rendah. Bagi kontraktor dan pengembang, ini adalah bukti komitmen terhadap kualitas yang membangun kepercayaan dan reputasi jangka panjang. Sebaliknya, masalah struktural yang muncul akibat kualitas baja yang buruk dapat merusak nama baik perusahaan secara permanen dan berujung pada sengketa hukum yang mahal.
Project Manager’s Insight
“Banyak yang melihat Quality Control sebagai biaya, padahal ini adalah asuransi terbaik untuk proyek. Biaya untuk melakukan pengujian material yang benar jauh lebih kecil dibandingkan biaya kegagalan, baik itu kegagalan struktural maupun kegagalan memenuhi tenggat waktu proyek. QC yang solid adalah investasi, bukan pengeluaran.”
Memahami Standar Baja: Panduan Praktis SNI & Internasional
Untuk melakukan kontrol kualitas yang efektif, Anda harus berbicara dalam “bahasa” yang sama dengan produsen dan regulator, yaitu bahasa standar. Di Indonesia, Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah acuan utama yang wajib diikuti. Memahami standar ketebalan baja untuk konstruksi dan persyaratan lainnya adalah langkah pertama untuk memastikan kepatuhan dan keamanan.
Standar ini menetapkan properti mekanis, komposisi kimia, dimensi, dan toleransi yang harus dipenuhi oleh produk baja. Mengacu pada standar yang benar memastikan bahwa baja yang Anda gunakan memiliki kekuatan dan karakteristik yang sesuai dengan perhitungan desain struktural. Berikut adalah beberapa SNI paling krusial dalam dunia konstruksi baja.
SNI Kunci untuk Baja Tulangan Beton (BjTB)
Untuk struktur beton bertulang, baja tulangan (rebar) adalah komponen vital. Standar yang mengaturnya adalah SNI 2052:2017 tentang Baja Tulangan Beton[2]. Standar ini menggantikan versi sebelumnya dan menjadi acuan wajib. Beberapa poin terpenting dari SNI ini yang harus diperiksa di lapangan meliputi:
- Penandaan (Marking): Setiap batang baja tulangan wajib memiliki penandaan timbul (emboss) yang jelas. Penandaan ini biasanya berupa kode yang menginformasikan produsen, ukuran diameter, dan kelas baja (misalnya, BjTS 420B). Penandaan ini adalah tanda pertama keaslian dan kesesuaian produk.
- Toleransi Diameter: SNI menetapkan batas toleransi yang diizinkan untuk diameter nominal baja tulangan. Pemeriksaan dimensi menggunakan kaliper (jangka sorong) adalah bagian dari inspeksi penerimaan.
- Sifat Mekanis: Standar ini mendefinisikan persyaratan minimum untuk kekuatan leleh (yield strength), kekuatan tarik (tensile strength), dan elongasi. Data ini harus tercantum dalam Mill Test Certificate (MTC) yang menyertai pengiriman material.
Standar untuk Profil Baja Struktural (IWF, H-Beam)
Untuk rangka bangunan, jembatan, dan struktur utama lainnya, profil baja seperti I-Wide Flange (IWF) dan H-Beam adalah pilihan utama. Standar yang relevan di Indonesia adalah SNI 07-7178-2006 untuk profil baja struktural. Standar ini mengatur:
- Dimensi dan Toleransi: Ketebalan flange (sayap) dan web (badan), tinggi, dan lebar profil harus sesuai dengan tabel standar. Penyimpangan dimensi di luar toleransi dapat secara signifikan mengurangi kapasitas penahan beban profil tersebut.
- Kualitas Permukaan: Standar juga mensyaratkan bahwa profil baja harus bebas dari cacat permukaan yang berbahaya seperti retak, lipatan, atau laminasi.
Sebagai konteks tambahan, banyak standar SNI yang selaras dengan standar internasional yang diakui secara luas, seperti yang dikeluarkan oleh ASTM International. Misalnya, kualitas baja struktural seringkali disetarakan dengan standar ASTM A36 atau ASTM A572, yang umum digunakan di seluruh dunia[3]. Memahami padanan ini membantu ketika berhadapan dengan material impor atau spesifikasi proyek internasional.
Tabel Perbandingan Persyaratan Kunci SNI
| Jenis Baja | Standar SNI Utama | Persyaratan Kunci yang Diperiksa | Penandaan Khas |
|---|---|---|---|
| Baja Tulangan Beton | SNI 2052:2017 | Diameter, Toleransi, Sifat Mekanis | Logo SNI, Kode Produsen, Ukuran (emboss) |
| Profil Struktural | SNI 07-7178-2006 | Dimensi (Tinggi, Lebar, Tebal), Kelurusan | Stensil cat atau stempel pada badan profil |
Proses Inspeksi Baja Lengkap: Dari Sertifikat hingga Lapangan
Memastikan kualitas baja konstruksi adalah sebuah proses sistematis, bukan satu kali pemeriksaan. Proses ini dimulai bahkan sebelum material tiba di lokasi dan berlanjut hingga baja siap dipasang. Berikut adalah alur kerja yang komprehensif untuk kontrol kualitas baja di proyek Anda.
Certified Engineer’s Note
“Traceability adalah kunci. Setiap batang baja atau profil yang datang harus bisa dilacak kembali ke Mill Test Certificate-nya. Gunakan sistem penandaan atau tagging yang jelas di lokasi penyimpanan. Jika terjadi masalah, Anda harus bisa mengisolasi material yang bermasalah dengan cepat tanpa harus menguji ulang seluruh stok.”
Langkah 1: Verifikasi Mill Test Certificate (MTC)
Setiap pengiriman baja dari pabrikan terkemuka wajib disertai dengan Mill Test Certificate (MTC) atau sertifikat uji pabrik. Dokumen ini adalah “akta kelahiran” baja, yang berisi data hasil pengujian dari batch produksi spesifik. Jangan pernah menerima material tanpa MTC yang valid.
Hal-hal krusial yang harus diperiksa pada MTC:
- Nomor Heat/Batch: Nomor ini harus cocok dengan penandaan pada baja fisik.
- Standar Kepatuhan: Dokumen harus secara eksplisit menyatakan bahwa material diproduksi sesuai standar yang relevan (misalnya, SNI 2052:2017).
- Komposisi Kimia: Periksa kandungan unsur-unsur penting seperti Karbon (C), Mangan (Mn), Fosfor (P), dan Belerang (S) untuk memastikan sesuai dengan persyaratan standar.
- Sifat Mekanis: Pastikan nilai kekuatan leleh, kekuatan tarik, dan elongasi memenuhi atau melampaui nilai minimum yang disyaratkan standar.
Secara internasional, MTC sering mengacu pada standar EN 10204. Sertifikat Tipe 3.1 dikeluarkan oleh pabrikan dan menyatakan bahwa produk sesuai pesanan, disertai hasil tes. Sertifikat Tipe 3.2 lebih ketat, karena verifikasi dan pengujian disaksikan oleh inspektur pihak ketiga yang independen. Untuk aplikasi kritis, meminta sertifikat Tipe 3.2 memberikan tingkat jaminan kualitas yang lebih tinggi.
Langkah 2: Inspeksi Visual & Dimensi Saat Penerimaan
Saat material tiba di lokasi proyek, tim QC harus segera melakukan inspeksi penerimaan. Ini adalah garis pertahanan pertama untuk menangkap masalah yang terlihat secara fisik.
Gunakan daftar periksa berikut:
- Pemeriksaan Kuantitas: Pastikan jumlah dan ukuran material sesuai dengan surat jalan dan pesanan pembelian.
- Pemeriksaan Penandaan: Cocokkan penandaan (emboss pada rebar, stensil pada profil) dengan informasi di MTC.
- Inspeksi Kerusakan Fisik: Periksa adanya bengkok, puntiran, atau kerusakan lain akibat transportasi dan penanganan.
- Inspeksi Korosi: Periksa tingkat korosi pada permukaan baja. Karat ringan pada permukaan rebar seringkali masih dapat diterima, tetapi korosi yang parah atau pitting (korosi sumuran) adalah tanda bahaya dan dapat menjadi dasar penolakan.
- Pengujian Dimensi: Lakukan pengukuran acak menggunakan alat ukur yang terkalibrasi (pita ukur, kaliper) untuk memverifikasi dimensi utama (diameter, tebal, lebar) terhadap standar dan MTC.
Langkah 3: Pengujian Non-Destruktif (NDT) di Lapangan
Inspeksi visual hanya dapat memeriksa apa yang terlihat di permukaan. Untuk memverifikasi integritas internal dan ketebalan yang akurat, diperlukan Pengujian Non-Destruktif (NDT). NDT adalah serangkaian metode analisis yang mengevaluasi properti material tanpa menyebabkan kerusakan. Menurut American Society for Nondestructive Testing (ASNT), NDT adalah komponen vital dalam memastikan material berfungsi sesuai desain[4].
Tabel Perbandingan Metode NDT Umum untuk Baja
| Metode NDT | Prinsip Kerja | Kegunaan Utama pada Baja |
|---|---|---|
| Ultrasonic Testing (UT) | Gelombang suara frekuensi tinggi | Mengukur ketebalan, mendeteksi cacat internal (retak, laminasi) |
| Magnetic Particle Testing (MT) | Partikel magnetik menumpuk di area cacat | Mendeteksi retak permukaan dan dekat permukaan pada material feromagnetik |
| Liquid Penetrant Testing (PT) | Cairan penetran meresap ke dalam retakan | Mendeteksi retak yang terbuka ke permukaan pada berbagai material |
| Radiographic Testing (RT) | Sinar-X atau Gamma menembus material | Mendeteksi cacat internal pada lasan dan komponen cor |
Untuk kontrol kualitas baja di lapangan, Ultrasonic Testing (UT) untuk mengukur ketebalan adalah salah satu metode yang paling praktis dan umum digunakan.
Alat & Teknik Utama: Menguasai Uji Ketebalan Baja
Di antara berbagai alat QC, thickness gauge (alat ukur ketebalan) adalah perangkat esensial di setiap proyek konstruksi. Alat ini memungkinkan verifikasi cepat dan akurat terhadap dua parameter kritis: ketebalan material baja itu sendiri dan ketebalan lapisan pelindung anti-korosi.
Jika membutuhkan pengukuran ketebalan yang tepat, thickness gauge ini layak dipertimbangkan:
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge: Mengukur Ketebalan Material Baja
Ultrasonic thickness gauge bekerja dengan mengirimkan pulsa suara frekuensi tinggi melalui material dari satu sisi menggunakan transduser (probe). Pulsa ini akan merambat hingga mencapai sisi lain (atau cacat internal) dan memantul kembali. Alat ukur kemudian mengukur waktu tempuh pulsa tersebut dan, dengan mengetahui kecepatan suara pada baja, menghitung ketebalan material secara presisi.
Untuk kebutuhan ultrasonic thickness-gauge, berikut produk yang direkomendasikan:
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Metode ini sangat berguna untuk:
- Memverifikasi ketebalan plat baja atau dinding pipa sesuai spesifikasi.
- Mendeteksi penipisan material akibat risiko korosi pada struktur yang sudah ada.
- Memastikan tidak ada cacat internal seperti laminasi pada plat baja.
Praktik standar untuk metode ini diatur dalam ASTM E797, yang memberikan panduan untuk pengukuran ketebalan kontak secara manual menggunakan metode pulse-echo[5].
Troubleshooting Uji Ultrasonik
- Hasil Tidak Stabil: Pastikan permukaan bersih dari karat, cat, dan kotoran. Tambahkan lebih banyak couplant (gel khusus) untuk memastikan kontak probe yang baik.
- Hasil Tidak Akurat: Lakukan kalibrasi ulang pada blok referensi dengan ketebalan yang diketahui. Pastikan pengaturan kecepatan suara pada alat sesuai dengan material baja yang diuji.
Langkah-Langkah: Cara Menggunakan Thickness Gauge untuk Baja
Menggunakan ultrasonic thickness gauge untuk uji ketebalan baja adalah proses yang sederhana jika mengikuti langkah yang benar. Berikut adalah panduan langkah demi langkah:
- Persiapan Permukaan: Area yang akan diuji harus bersih, halus, dan bebas dari karat, cat, atau kotoran. Gunakan sikat kawat atau gerinda jika perlu untuk mendapatkan permukaan logam yang terekspos.
- Kalibrasi Alat: Hidupkan alat ukur. Lakukan kalibrasi “zero” atau kalibrasi dua titik menggunakan blok referensi yang biasanya disertakan dengan alat. Langkah ini sangat penting untuk memastikan akurasi pengukuran.
- Oleskan Couplant: Oleskan sedikit gel couplant pada permukaan baja yang akan diuji. Couplant berfungsi untuk menghilangkan celah udara antara probe dan permukaan, memungkinkan gelombang suara merambat dengan baik.
- Lakukan Pengukuran: Tekan probe dengan kuat dan tegak lurus pada permukaan yang telah diberi couplant. Tahan hingga angka pada layar alat ukur stabil. Angka tersebut adalah ketebalan material di titik itu.
- Interpretasi Hasil: Catat hasil pengukuran. Lakukan pengukuran di beberapa titik di sekitar area yang sama untuk mendapatkan gambaran yang representatif. Bandingkan hasil rata-rata dengan ketebalan nominal yang disyaratkan oleh standar atau spesifikasi desain.
Coating Thickness Gauge: Memastikan Proteksi Anti-Korosi
Selain ketebalan material dasar, ketebalan lapisan pelindung (coating) seperti cat atau galvanis juga sangat penting. Lapisan ini adalah pertahanan utama terhadap risiko korosi pada baja. Ketebalan yang tidak memadai akan secara drastis mengurangi umur pakai struktur, terutama di lingkungan yang agresif seperti area pesisir Indonesia.
Alat ukur ketebalan coating, sering disebut DFT (Dry Film Thickness) gauge, bekerja berdasarkan prinsip yang berbeda. Untuk substrat baja (material ferrous), alat ini menggunakan prinsip induksi magnetik (Type F probe). Alat ini mengukur perubahan medan magnet yang disebabkan oleh jarak antara ujung probe dan logam dasar baja, yang setara dengan ketebalan lapisan coating.
Memverifikasi DFT sangat penting karena:
- Produsen cat mensyaratkan rentang DFT spesifik untuk kinerja optimal.
- Lapisan yang terlalu tipis tidak memberikan perlindungan yang cukup.
- Lapisan yang terlalu tebal bisa retak dan terkelupas.
- Lapisan galvanis hot-dip yang tebalnya sesuai dapat melindungi baja dari korosi selama lebih dari 50 tahun di banyak lingkungan.
Standar untuk inspeksi coating sering mengacu pada panduan dari The Society for Protective Coatings (SSPC), yang sekarang menjadi bagian dari Association for Materials Protection and Performance (AMPP)[6].
Menangani Masalah: Panduan Mengatasi Baja Tidak Sesuai Spek
Meskipun dengan proses seleksi supplier yang ketat, kemungkinan menerima material yang tidak sesuai spesifikasi (non-conforming) tetap ada. Ini bisa berupa ketebalan baja tidak sesuai, hasil uji kimia yang melenceng, atau cacat fisik. Saat hal ini terjadi, memiliki prosedur yang jelas dan terdokumentasi sangatlah krusial untuk mengendalikan situasi dan melindungi proyek secara hukum dan teknis.
Berikut adalah alur kerja untuk menangani material yang tidak sesuai:
Identifikasi dan Karantina Material
Langkah pertama dan paling mendesak adalah mencegah material yang tidak sesuai tersebut digunakan secara tidak sengaja dalam konstruksi.
- Identifikasi dengan Jelas: Beri tanda yang mencolok pada material tersebut menggunakan cat semprot, spidol, atau label “DITOLAK” atau “JANGAN DIGUNAKAN”.
- Karantina Fisik: Pindahkan material tersebut ke area penyimpanan terpisah yang telah ditentukan sebagai “area karantina”.
- Informasikan Tim: Segera beritahukan kepada manajer lapangan, manajer proyek, dan tim terkait mengenai status material tersebut.
Membuat Laporan Ketidaksesuaian (Non-Conformance Report)
Setiap temuan ketidaksesuaian harus didokumentasikan secara formal dalam sebuah Laporan Ketidaksesuaian atau Non-Conformance Report (NCR). Dokumen ini adalah catatan resmi yang sangat penting untuk keperluan audit, klaim, dan komunikasi dengan pemasok.
NCR harus berisi informasi detail, antara lain:
- Nomor NCR dan Tanggal: Untuk pelacakan.
- Deskripsi Material: Nama material, ukuran, jumlah, dan nomor heat/batch.
- Pemasok/Supplier: Nama perusahaan pemasok.
- Referensi Spesifikasi: Sebutkan standar (misal, SNI 2052:2017), gambar teknis, atau klausul kontrak yang dilanggar.
- Deskripsi Ketidaksesuaian: Jelaskan dengan rinci masalah yang ditemukan (misalnya, “Ketebalan plat terukur 7.5mm, sementara spesifikasi minimum 8.0mm”).
- Bukti Pendukung: Lampirkan bukti objektif seperti foto, hasil pengukuran dari thickness gauge, atau laporan uji laboratorium.
- Disposisi: Bagian ini nantinya akan diisi dengan keputusan akhir mengenai material tersebut (misalnya, Ditolak dan Dikembalikan ke Supplier, Diterima dengan Konsesi, atau Diperbaiki).
NCR ini kemudian dikirimkan secara resmi kepada pemasok untuk ditindaklanjuti. Proses ini memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai masalah dan menciptakan jejak audit yang jelas untuk penyelesaian masalah.
Kesimpulan: Kualitas Baja Adalah Fondasi Keberhasilan Proyek
Kontrol kualitas baja dalam proyek konstruksi bukanlah serangkaian tugas yang terpisah, melainkan sebuah proses yang terintegrasi dan sistematis. Mulai dari pemahaman mendalam terhadap standar SNI, verifikasi cermat terhadap Mill Test Certificate, hingga penguasaan teknik pengujian di lapangan menggunakan alat seperti thickness gauge, setiap langkah memiliki peran krusial. Proses ini adalah jaring pengaman yang melindungi proyek Anda dari risiko kegagalan struktural, pembengkakan biaya, dan kerusakan reputasi.
Dengan mengikuti panduan ini, Anda sebagai insinyur, manajer proyek, atau pengawas lapangan diberdayakan untuk mengelola kualitas baja dengan percaya diri dari awal hingga akhir. Menguasai langkah-langkah ini bukan hanya tentang memenuhi standar, tetapi tentang membangun warisan berupa struktur yang aman, andal, dan tahan lama untuk masa depan.
Untuk memastikan setiap langkah kontrol kualitas di proyek Anda tidak terlewat, jangan ragu untuk menghubungi tim ahli kami. Kami siap membantu Anda menerapkan praktik terbaik dan memastikan integritas proyek Anda terjaga.
Sebagai supplier dan distributor alat ukur dan uji terkemuka, CV. Java Multi Mandiri memiliki spesialisasi dalam melayani klien bisnis dan aplikasi industri. Kami memahami bahwa memiliki peralatan yang tepat dan terkalibrasi seperti ultrasonic thickness gauge dan coating thickness gauge adalah kunci untuk program QC yang sukses. Kami tidak hanya menyediakan produk, tetapi juga menawarkan keahlian untuk membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial Anda. Untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda, silakan hubungi kami untuk konsultasi solusi bisnis.
Disclaimer: This article provides informational guidance. Always consult with a certified structural engineer and refer to the latest official standard documents (SNI, ASTM) for project-specific decisions and legal compliance.
Rekomendasi Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
Ultrasonic Thickness Gauge
References
- National Transportation Safety Board (NTSB). (2008). Highway Accident Report: Collapse of I-35W Highway Bridge Minneapolis, Minnesota, August 1, 2007. NTSB/HAR-08/03. Washington, D.C.
- Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2017). SNI 2052:2017 Baja tulangan beton. Jakarta: BSN.
- ASTM International. (N.D.). ASTM A36 / A36M – 19, Standard Specification for Carbon Structural Steel. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- American Society for Nondestructive Testing (ASNT). (N.D.). Introduction to Nondestructive Testing. Retrieved from asnt.org.
- ASTM International. (N.D.). ASTM E797 / E797M-21, Standard Practice for Measuring Thickness by Manual Ultrasonic Pulse-Echo Contact Method. West Conshohocken, PA: ASTM International.
- Association for Materials Protection and Performance (AMPP). (N.D.). SSPC Standards. Retrieved from ampp.org.



