Panduan Hardness Tester untuk Quality Control Kelistrikan

Hardness tester device in an electrician's workshop for quality control, showing wear and tear with electrical wires and tools.

Sebuah kegagalan komponen listrik yang katastropik jarang sekali terjadi secara tiba-tiba. Seringkali, akarnya bukanlah dari lonjakan arus atau korsleting, melainkan dari musuh yang tak terlihat: kegagalan mekanis pada material. Sebuah casing pelindung yang retak, konektor yang berubah bentuk, atau struktur internal yang rapuh dapat memicu bencana. Masalah utamanya adalah banyak dari kegagalan ini berawal dari kualitas material yang buruk—sebuah variabel yang sering diabaikan dalam proses quality control yang berfokus pada aspek elektrikal semata.

Artikel ini adalah panduan definitif yang akan menjembatani kesenjangan tersebut. Kami akan beralih dari sekadar membahas ‘apa’ itu hardness tester, menjadi ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’ alat ini menjadi instrumen paling krusial dalam arsenal quality control (QC) Anda. Tujuannya jelas: mencegah kegagalan fatal, memastikan keandalan produk, dan melindungi reputasi bisnis Anda. Kita akan menjelajahi mengapa uji kekerasan material sangat penting, cara memilih dan menggunakan alat yang tepat, hingga mengintegrasikannya ke dalam sistem quality control formal Anda untuk mencapai keunggulan produk.

  1. Mengapa Uji Kekerasan Krusial dalam Quality Control Listrik?
    1. Menghubungkan Kekerasan Material dengan Keandalan Komponen
    2. Risiko Bisnis Akibat Material Tidak Sesuai Spesifikasi
  2. Memilih Metode Uji Kekerasan yang Tepat untuk Komponen Anda
    1. Perbandingan Metode Umum: Rockwell, Vickers, dan Brinell
    2. Pertimbangan Khusus untuk Material Listrik (Plastik & Logam)
  3. Panduan Praktis: Cara Menggunakan Hardness Tester dengan Benar
    1. Langkah 1: Persiapan Sampel dan Kalibrasi Alat
    2. Langkah 2: Prosedur Pengujian Sesuai Standar
    3. Langkah 3: Interpretasi Hasil dan Tindakan Korektif
  4. Mengintegrasikan Uji Kekerasan ke dalam Sistem Quality Control
    1. Peran Uji Kekerasan dalam Standarisasi ISO 9001
    2. Membangun Titik Kontrol Kualitas: Dari Material Masuk hingga Produk Jadi
  5. Kesimpulan
  6. References

Mengapa Uji Kekerasan Krusial dalam Quality Control Listrik?

Di dunia manufaktur yang menuntut presisi tinggi, uji kekerasan material bukanlah sekadar langkah teknis, melainkan pilar fundamental dari manajemen risiko dan jaminan kualitas. Ini adalah garis pertahanan pertama Anda terhadap kegagalan komponen yang mahal dan berbahaya. Hubungan langsung antara sifat mekanis material dan keandalan jangka panjang produk listrik tidak dapat dinegosiasikan.

Pentingnya hal ini ditegaskan oleh standar industri global. Menurut ASTM International, metode uji kekerasan seperti Rockwell dianggap memuaskan untuk pengujian penerimaan pengiriman komersial dan telah digunakan secara luas di industri untuk tujuan ini.[2] Ini berarti uji kekerasan adalah praktik standar yang diakui untuk memverifikasi kualitas material sebelum masuk ke lini produksi Anda.

Mengabaikan langkah ini dapat berakibat fatal. Alex Austin, seorang ahli dan ketua komite revisi standar ISO untuk pengujian Brinell, menyoroti bencana kereta api berkecepatan tinggi ‘Eschede Derailment’ pada tahun 1998 yang menewaskan 101 orang. Penyebabnya? Kekerasan yang salah pada satu roda baja.[1] Meskipun terjadi di industri yang berbeda, pelajaran ini sangat relevan: kegagalan material karena kekerasan yang tidak sesuai dapat menyebabkan bencana, sebuah risiko yang tidak dapat diterima oleh industri kelistrikan yang mengutamakan keselamatan.

Menghubungkan Kekerasan Material dengan Keandalan Komponen

Kekerasan material adalah indikator proksi yang sangat baik untuk sifat mekanis penting lainnya, seperti kekuatan tarik (tensile strength), ketahanan aus (wear resistance), dan keuletan (ductility). Dalam konteks komponen listrik, ini berarti:

  • Casing dan Enclosure: Casing dengan kekerasan yang tidak memadai dapat retak akibat getaran atau benturan, mengekspos komponen internal yang sensitif dan bertegangan ke lingkungan luar, menciptakan risiko keamanan yang serius.
  • Konektor dan Terminal: Konektor yang terlalu lunak dapat berubah bentuk saat dikencangkan, menyebabkan koneksi yang buruk dan panas berlebih. Sebaliknya, jika terlalu keras dan rapuh, mereka bisa patah saat instalasi.
  • Struktur Internal: Rangka logam atau heat sink yang menopang komponen elektronik harus memiliki kekerasan yang tepat untuk menahan tekanan mekanis dan termal selama masa pakainya.

Uji kekerasan juga merupakan cara paling efisien untuk memverifikasi proses manufaktur penting seperti perlakuan panas (heat treatment). Proses ini sangat penting untuk banyak komponen logam listrik, dan uji kekerasan dapat dengan cepat memastikan bahwa proses tersebut telah dilakukan dengan benar, memberikan kekuatan yang diinginkan pada produk akhir.

Risiko Bisnis Akibat Material Tidak Sesuai Spesifikasi

Mengizinkan material yang tidak sesuai spesifikasi masuk ke dalam rantai produksi Anda sama saja dengan menanam bom waktu. Konsekuensi bisnisnya sangat nyata dan merusak:

  • Penarikan Produk (Product Recalls): Satu batch material yang buruk dapat mencemari ribuan unit produk jadi, yang mengarah pada penarikan produk yang sangat mahal dan merusak logistik.
  • Klaim Garansi yang Melonjak: Produk yang gagal sebelum waktunya akan membanjiri departemen layanan pelanggan Anda dengan klaim garansi, menghabiskan sumber daya dan keuntungan.
  • Kerusakan Reputasi Merek: Di era digital, berita tentang produk yang tidak andal menyebar dengan cepat. Inkonsistensi kualitas produk adalah cara tercepat untuk mengikis kepercayaan pelanggan yang telah Anda bangun dengan susah payah.
  • Biaya Pengerjaan Ulang (Rework): Mengidentifikasi material yang cacat di tengah atau akhir proses produksi jauh lebih mahal daripada menolaknya di pintu masuk.

Untuk mencegah hal ini, para profesional QC menerapkan pengujian pada titik-titik kritis, seperti yang dijelaskan oleh Alex Austin: “pada tahap ‘barang masuk’, untuk menentukan penerimaan bahan baku, dan tahap ‘barang keluar’, untuk mencegah pengiriman produk yang cacat”.[1]

Engineer’s Checklist: 3 Risiko Utama Material di Luar Spesifikasi

  1. Bahaya Keselamatan: Kegagalan mekanis pada komponen listrik dapat menyebabkan sengatan listrik, kebakaran, atau kerusakan peralatan yang lebih luas.
  2. Penurunan Umur Pakai: Material yang lebih lunak atau lebih rapuh dari yang seharusnya akan aus atau patah lebih cepat, secara drastis mengurangi masa pakai produk.
  3. Kinerja yang Tidak Konsisten: Variasi kekerasan material dapat menyebabkan kinerja produk yang tidak dapat diprediksi, merusak kepercayaan pelanggan pada merek Anda.

Memilih Metode Uji Kekerasan yang Tepat untuk Komponen Anda

Setelah memahami ‘mengapa’, langkah selanjutnya adalah ‘bagaimana’. Memilih metode uji kekerasan yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang akurat dan relevan. Keputusan ini bergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis material (logam, plastik), ketebalan komponen, dan standar industri yang berlaku.

Untuk kebutuhan hardness tester, berikut produk yang direkomendasikan:

Vickers Hardness Tester

Alat Ukur Digital MITECH MHVS-5

Rp108,750,000.00
Rp149,175,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Portable Metal Hardness Tester MITECH MHVS50Z

Rp153,750,000.00
Rp153,750,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Alat Ukur Kekerasan MITECH MHV5

Rp86,250,000.00
Rp683,760,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Portable Hardness Tester Brinell & Vikers MITECH MHVS1

Rp135,750,000.00
Rp137,760,000.00

Untuk komponen kelistrikan, yang sering kali mencakup logam dan plastik, pemahaman tentang metode pengujian yang berbeda menjadi sangat penting. Standar industri secara spesifik mengakui kebutuhan ini. Sebagai contoh, standar seperti ASTM D785 dan ISO 2039 secara khusus menjelaskan metode untuk menentukan kekerasan plastik, karet keras, dan “bahan isolasi listrik terkait yang terbuat dari plastik” menggunakan indentor bola berbeban.[3] Ini menunjukkan bahwa pengujian kekerasan tidak hanya untuk logam, tetapi juga merupakan bagian integral dari QC untuk komponen non-logam dalam industri listrik.

Berikut adalah perbandingan metode umum untuk membantu Anda membuat keputusan yang tepat:

Metode Prinsip Aplikasi Terbaik Kelebihan Kekurangan
Rockwell (HRC, HRB) Mengukur kedalaman sisa indentasi setelah beban utama dilepaskan. Pengujian produksi cepat pada logam, inspeksi barang masuk. Cepat, mudah dioperasikan, pembacaan langsung. Kurang akurat untuk material yang sangat tipis atau permukaan yang tidak rata.
Vickers (HV) Mengukur diagonal indentasi berbentuk piramida setelah beban diterapkan. Material yang sangat tipis, lapisan permukaan, komponen kecil, pengujian di laboratorium. Sangat akurat, satu skala untuk semua material, cocok untuk sampel kecil. Proses lebih lambat, membutuhkan persiapan permukaan yang baik dan mikroskop.
Brinell (HBW) Mengukur diameter indentasi yang dibuat oleh bola karbida di bawah beban. Material kasar atau tidak homogen seperti coran dan tempaan. Baik untuk material dengan struktur butir kasar, indentasi besar memberikan hasil rata-rata. Tidak cocok untuk material tipis, dapat merusak permukaan.

Perbandingan Metode Umum: Rockwell, Vickers, dan Brinell

Setiap metode memiliki tempatnya dalam quality control.

  • Rockwell: Ini adalah “pekerja keras” di lantai produksi. Sesuai dengan standar seperti ASTM E18,[2] kecepatannya menjadikannya ideal untuk pengujian 100% atau pengambilan sampel statistik pada batch besar konektor logam, rangka, atau sasis.
  • Vickers: Ketika presisi adalah segalanya, Vickers adalah pilihan utama. Metode ini sangat cocok untuk menguji kekerasan lapisan tipis (misalnya, pelapisan anti-korosi pada kontak listrik) atau area yang sangat kecil pada komponen elektronik yang rumit.
  • Brinell: Untuk komponen listrik yang lebih besar dan lebih kasar, seperti rumah motor cor atau braket struktural besar, Brinell memberikan gambaran kekerasan massal yang lebih representatif.

Bagi para profesional yang ingin mendalami ilmu di balik metode-metode ini, ASM International Overview of Hardness Testing menyediakan sumber daya teknis yang sangat baik.

Pertimbangan Khusus untuk Material Listrik (Plastik & Logam)

Lingkungan kelistrikan menghadirkan tantangan material yang unik. Anda tidak hanya berurusan dengan logam konduktif tetapi juga dengan berbagai macam polimer isolasi.

  • Untuk Komponen Logam (Konektor, Heat Sink, Sasis): Metode Rockwell sering kali menjadi pilihan terbaik karena keseimbangan antara kecepatan dan akurasi. Tujuannya adalah untuk memverifikasi spesifikasi material dan konsistensi perlakuan panas.
  • Untuk Komponen Plastik (Isolator, Casing, Sakelar): Di sinilah pengetahuan tentang standar spesifik menjadi sangat penting. Seperti yang disebutkan, standar seperti ASTM D785 dan ISO 2039 dirancang khusus untuk mengukur kekerasan pada “bahan isolasi listrik”.[3] Menggunakan metode dan skala yang tepat (seperti skala Rockwell R atau M untuk plastik) memastikan bahwa sifat isolasi dan mekanis dari komponen-komponen penting ini memenuhi persyaratan keselamatan dan kinerja.

Panduan Praktis: Cara Menggunakan Hardness Tester dengan Benar

Memiliki alat yang tepat hanyalah setengah dari pertempuran; menggunakannya dengan benar adalah kunci untuk mendapatkan data yang andal dan dapat ditindaklanjuti. Prosedur yang tidak tepat dapat menghasilkan pembacaan yang salah, yang berpotensi meloloskan material yang buruk atau menolak material yang baik, keduanya merugikan bisnis. Prosedur berikut didasarkan pada prinsip-prinsip yang diuraikan dalam standar industri seperti ASTM E18-15 untuk pengujian Rockwell.[2]

Untuk kebutuhan hardness tester, berikut produk yang direkomendasikan:

Vickers Hardness Tester

Alat Ukur Digital MITECH MHVS-5

Rp108,750,000.00
Rp149,175,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Portable Metal Hardness Tester MITECH MHVS50Z

Rp153,750,000.00
Rp153,750,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Alat Ukur Kekerasan MITECH MHV5

Rp86,250,000.00
Rp683,760,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Portable Hardness Tester Brinell & Vikers MITECH MHVS1

Rp135,750,000.00
Rp137,760,000.00

Langkah 1: Persiapan Sampel dan Kalibrasi Alat

Fondasi dari setiap pengukuran yang baik adalah persiapan dan kalibrasi. Jangan pernah melewatkan langkah ini.

  1. Persiapan Permukaan: Permukaan yang akan diuji harus bersih, kering, dan bebas dari kerak, oli, atau kotoran. Permukaan harus rata dan halus untuk memastikan indentor duduk dengan benar. Permukaan yang melengkung mungkin memerlukan koreksi atau jig khusus.
  2. Dukungan Sampel: Komponen harus diletakkan dengan stabil di atas anvil. Setiap gerakan atau pergeseran selama pengujian akan membatalkan hasil.
  3. Kalibrasi Harian: Di awal setiap shift kerja atau setiap kali indentor diubah, verifikasi akurasi mesin menggunakan blok uji standar bersertifikat. Lakukan beberapa pengujian pada blok. Jika pembacaan berada di luar toleransi yang ditentukan pada blok, mesin memerlukan penyesuaian atau servis sebelum digunakan.

Common Mistakes to Avoid

  • Jangan Menguji di Dekat Tepi: Jaga jarak minimal 2,5 kali diameter indentasi dari tepi sampel untuk menghindari efek tepi.
  • Jangan Menumpuk Sampel Tipis: Menguji tumpukan lembaran tipis tidak akan memberikan hasil yang akurat. Uji setiap lembar secara individual dengan metode yang sesuai (misalnya, Vickers atau Rockwell Superficial).
  • Jangan Menguji pada Permukaan yang Kotor atau Berkarat: Hasilnya akan mencerminkan kekerasan lapisan permukaan, bukan material dasarnya.

Langkah 2: Prosedur Pengujian Sesuai Standar

Setelah alat dikalibrasi dan sampel disiapkan, proses pengujian itu sendiri harus dilakukan secara konsisten. Prosedur ini mengacu pada prinsip-prinsip dalam standar seperti ASTM E18.[2]

  1. Pilih Skala yang Tepat: Pilih kombinasi indentor (misalnya, bola baja atau kerucut berlian) dan beban (minor dan mayor) yang sesuai untuk material yang Anda uji. Ini disebut sebagai skala Rockwell (misalnya, HRC untuk baja keras, HRB untuk baja lunak).
  2. Terapkan Beban Awal (Minor Load): Bawa sampel ke dalam kontak dengan indentor dan terapkan beban awal. Ini untuk menempatkan indentor dengan kuat dan menghilangkan efek dari ketidaksempurnaan permukaan kecil. Atur dial atau tampilan digital ke nol.
  3. Terapkan Beban Utama (Major Load): Terapkan beban utama secara mulus tanpa guncangan. Biarkan beban diterapkan selama waktu tinggal (dwell time) yang ditentukan (biasanya beberapa detik) untuk memungkinkan material stabil.
  4. Lepaskan Beban Utama: Lepaskan beban utama, biarkan beban awal tetap diterapkan.
  5. Baca Hasilnya: Mesin akan secara otomatis mengukur perbedaan kedalaman antara posisi beban awal dan akhir, dan menampilkan nilai kekerasan secara langsung pada dial atau layar digital.

Untuk prosedur resmi dan detail teknis yang lebih mendalam, NIST Guide to Rockwell Hardness Measurement adalah sumber daya yang sangat berharga.

Langkah 3: Interpretasi Hasil dan Tindakan Korektif

Data yang Anda kumpulkan hanya berguna jika Anda tahu apa yang harus dilakukan dengannya.

  1. Bandingkan dengan Spesifikasi: Bandingkan hasil pengujian Anda dengan rentang kekerasan yang dapat diterima yang tercantum dalam lembar spesifikasi material (material spec sheet) atau gambar teknik.
  2. Buat Keputusan:
    • Jika Lulus (Dalam Spesifikasi): Material dapat diterima. Beri label yang jelas pada batch tersebut dan lepaskan ke lini produksi.
    • Jika Gagal (Di Luar Spesifikasi): Jangan gunakan material tersebut. Segera karantina seluruh batch untuk mencegah penggunaan yang tidak disengaja.
  3. Lakukan Analisis Akar Masalah (Root Cause Analysis): Kegagalan harus memicu investigasi. Apakah masalahnya ada pada pemasok? Apakah terjadi kesalahan dalam proses perlakuan panas internal? Misalnya, jika lembar spesifikasi untuk konektor baja membutuhkan kekerasan 45 HRC dan pengujian Anda rata-rata 38 HRC, ini menunjukkan potensi masalah dengan bahan baku atau proses perlakuan panas yang harus diselidiki sebelum material tersebut digunakan.

Mengintegrasikan Uji Kekerasan ke dalam Sistem Quality Control

Uji kekerasan yang efektif bukanlah aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan komponen integral dari sistem quality control (QC) yang lebih luas dan terstruktur. Dengan menanamkan pengujian ini ke dalam proses standar Anda, Anda beralih dari pemadaman kebakaran reaktif menjadi pencegahan cacat proaktif. Kerangka kerja seperti siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) menyediakan model yang sangat baik untuk perbaikan berkelanjutan.

Contoh Template SOP Sederhana: Inspeksi Kekerasan Material Masuk

  • Tujuan: Untuk memverifikasi bahwa kekerasan material baku yang diterima dari pemasok memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.
  • Ruang Lingkup: Berlaku untuk semua material logam dan plastik kritis yang diterima.
  • Prosedur:
    1. Verifikasi identitas material terhadap pesanan pembelian dan sertifikat analisis pemasok.
    2. Pilih sampel secara acak dari batch (misalnya, 3 sampel per palet).
    3. Lakukan kalibrasi harian pada Hardness Tester sesuai prosedur.
    4. Siapkan permukaan sampel sesuai standar.
    5. Lakukan 3 kali pengujian pada setiap sampel di lokasi yang berbeda.
    6. Catat semua pembacaan pada Log Inspeksi Material Masuk.
    7. Bandingkan nilai rata-rata dengan rentang spesifikasi yang dapat diterima.
    8. Lulus: Tandai batch sebagai “Disetujui untuk Produksi”.
    9. Gagal: Tandai batch sebagai “Ditolak – Karantina” dan beri tahu Manajer QC.
  • Referensi: Gambar Teknik [Nomor], Standar ASTM [Nomor].

Peran Uji Kekerasan dalam Standarisasi ISO 9001

Bagi perusahaan yang menerapkan atau mematuhi standar manajemen mutu ISO 9001, verifikasi material adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Uji kekerasan secara langsung mendukung beberapa klausul utama dalam standar tersebut:

  • Klausul 8.4 (Kontrol proses, produk, dan layanan yang disediakan secara eksternal): Standar ini mengharuskan Anda untuk memastikan bahwa produk yang dibeli (bahan baku) sesuai dengan persyaratan. Uji kekerasan adalah metode verifikasi utama untuk mencapai ini.
  • Klausul 8.6 (Pelepasan produk dan layanan): Anda harus menyimpan bukti terdokumentasi bahwa produk memenuhi kriteria penerimaan. Log hasil uji kekerasan Anda berfungsi sebagai bukti objektif ini.

Dengan mengintegrasikan uji kekerasan ke dalam sistem manajemen mutu Anda, Anda tidak hanya meningkatkan kualitas produk tetapi juga membangun sistem yang kuat dan dapat diaudit yang sejalan dengan praktik terbaik global. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat merujuk langsung ke ISO 9001:2015 Quality Management Standard.

Membangun Titik Kontrol Kualitas: Dari Material Masuk hingga Produk Jadi

Untuk memaksimalkan dampaknya, uji kekerasan harus ditempatkan secara strategis di seluruh alur kerja produksi Anda. Titik kontrol yang paling penting adalah di awal.

Alur Kerja Titik Kontrol Kualitas (Quality Control Point)

  1. Penerimaan Material dari Pemasok: Ini adalah titik kontrol yang paling kritis. Lakukan uji kekerasan pada sampel dari setiap batch yang masuk.
  2. Uji Kekerasan: Lakukan pengujian sesuai dengan SOP Anda.
  3. Keputusan Lulus/Gagal:
    • Lulus: Material dilepaskan ke inventaris produksi.
    • Gagal: Material dikarantina, dan proses ketidaksesuaian dimulai (misalnya, menghubungi pemasok).
  4. Rilis ke Produksi / Karantina: Hanya material yang terverifikasi yang boleh masuk ke lantai produksi.

Dengan menangkap material yang tidak sesuai spesifikasi sebelum memasuki produksi, Anda menghemat biaya pengerjaan ulang, pemborosan, dan potensi kegagalan produk jadi yang tak ternilai harganya. Ini adalah langkah paling hemat biaya yang dapat Anda ambil untuk meningkatkan kualitas secara keseluruhan.

Kesimpulan

Uji kekerasan material lebih dari sekadar pengukuran teknis; ini adalah alat strategis yang fundamental untuk manajemen risiko, pengurangan biaya, dan perlindungan merek dalam industri kelistrikan. Dengan memahami hubungan langsung antara kekerasan material dan keandalan komponen, Anda dapat secara proaktif mencegah kegagalan yang dapat merusak produk dan reputasi Anda.

Dari memilih metode yang tepat seperti Rockwell atau Vickers, mengikuti prosedur pengujian standar, hingga mengintegrasikan praktik ini ke dalam sistem quality control berbasis ISO 9001, setiap langkah adalah investasi dalam keunggulan produk. Menguasai proses ini akan mengubah pendekatan perusahaan Anda dari sekadar bereaksi terhadap masalah menjadi secara konsisten membangun kualitas dan keamanan ke dalam setiap komponen yang Anda hasilkan.

Mulai evaluasi proses verifikasi material Anda hari ini untuk membangun fondasi produk listrik yang lebih andal dan aman.

Sebagai pemasok dan distributor terkemuka alat ukur dan uji, CV. Java Multi Mandiri mengkhususkan diri dalam melayani klien bisnis dan aplikasi industri. Kami memahami bahwa memiliki peralatan yang tepat adalah kunci untuk mengoptimalkan operasi dan memastikan kualitas. Tim kami siap membantu perusahaan Anda menemukan hardness tester dan instrumen QC lainnya yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik Anda, memastikan setiap komponen memenuhi standar tertinggi. Untuk konsultasi solusi bisnis dan mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami.

This article provides general guidance. Always consult official manufacturer documentation for your specific hardness tester and adhere to all relevant safety protocols and industry standards before conducting any tests.

Rekomendasi Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Rockwell Hardness Tester

Alat Ukur Rockwell MITECH MHR-45A

Rp29,610,000.00
Rp158,625,000.00

Vickers Hardness Tester

Alat Ukur Digital MITECH MHVS-10

Rp108,750,000.00

Vickers Hardness Tester

Alat Ukur Kekerasan MITECH MHVS-5Z

Rp153,750,000.00

Brinell Rockwell & Vickers Hardness Tester

Alat Ukur Kekerasan MITECH MHBRVU-187.5 II

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Alat Ukur Kekerasan MITECH MH600

Rp19,845,000.00

Hardness Tester / Alat Ukur Kekerasan

Alat Pengukur Kekerasan MITECH MHV50

Rp86,250,000.00

Rockwell Hardness Tester

Alat Ukur Kekerasan MITECH MHRS-150P

Rp85,260,000.00

References

  1. Austin, A. (N.D.). Hardness testing – a comprehensive overview. Foundrax. Retrieved from https://foundrax.co.uk/hardness-testing-a-comprehensive-overview/
  2. ASTM International. (2015). ASTM E18-15 Standard Test Methods for Rockwell Hardness of Metallic Materials. Retrieved from https://repositorio.uisek.edu.ec/bitstream/123456789/2680/3/ASTM_E18-15.pdf
  3. ZwickRoell. (N.D.). ASTM D785 & ISO 2039-1/-2 Plastics hardness test. Retrieved from https://www.zwickroell.com/industries/plastics/thermoplastics-and-thermosetting-molding-materials/hardness-testing/