Di industri otomotif, manufaktur, dan konstruksi, kualitas pengecatan bukan sekadar masalah estetika. Lapisan cat yang tidak memenuhi standar ketebalan adalah awal dari kegagalan prematur: korosi pada struktur baja, pengelupasan pada bodi kendaraan, dan kerugian finansial yang signifikan akibat biaya reparasi ulang dan downtime produksi. Namun, banyak profesional di Indonesia menghadapi kendala nyata: hasil pengukuran ketebalan cat yang tidak konsisten, kebingungan dalam menerapkan standar internasional yang kompleks, dan kesulitan menginterpretasi data untuk mendeteksi cacat tersembunyi seperti ketebalan tidak merata akibat perbaikan bodi.
Artikel ini hadir sebagai panduan definitif dan komprehensif untuk mengatasi semua tantangan tersebut. Kami tidak hanya menjelaskan cara menggunakan coating thickness gauge, tetapi membekali Anda dengan kerangka kerja quality control yang solid berdasarkan standar global seperti SSPC-PA 2 dan ISO 12944, yang dikontekstualisasikan untuk aplikasi praktis di berbagai industri Indonesia. Dari pemilihan alat, teknik pengukuran akurat, interpretasi hasil, hingga pemeliharaan dan studi kasus, panduan langkah-demi-langkah ini dirancang untuk meningkatkan akurasi inspeksi, efisiensi operasional, dan melindungi aset perusahaan Anda.
- Memahami Coating Thickness Gauge: Prinsip Kerja dan Pemilihan
- Standar dan Prosedur Quality Control Pengecatan yang Diakui Internasional
- Teknik Pengukuran Ketebalan Cat yang Akurat dan Benar
- Interpretasi Hasil dan Database Standar Ketebalan
- Pemeliharaan, Kalibrasi, dan Troubleshooting untuk Keandalan Alat
- Aplikasi Praktis dan Studi Kasus di Industri Indonesia
- Kesimpulan
- Referensi
Memahami Coating Thickness Gauge: Prinsip Kerja dan Pemilihan
Coating thickness gauge (alat ukur ketebalan lapisan) adalah instrumen inspeksi non-destruktif yang penting untuk memastikan kualitas dan ketahanan lapisan cat, pelapis, atau enamel pada substrat logam. Dalam konteks bisnis, alat ini merupakan investasi untuk quality assurance, membantu mencegah klaim garansi, memastikan kepatuhan kontrak, dan mengoptimalkan penggunaan material dengan menghindari aplikasi yang terlalu tipis (yang berisiko korosi) atau terlalu tebal (yang boros biaya).
Bagaimana Coating Thickness Gauge Bekerja? Prinsip Elektromagnetik dan Ultrasonik
Secara fundamental, alat ini mengukur Dry Film Thickness (DFT) atau ketebalan film kering. Dua prinsip kerja utama yang umum adalah:
- Prinsip Magnetik (Magnetic Induction): Digunakan untuk mengukur lapisan non-magnetik (seperti cat, plastik) di atas substrat besi atau baja (ferrous). Alat menghasilkan medan magnet; ketebalan lapisan mempengaruhi kuat medan magnet yang dideteksi, yang kemudian dikonversi menjadi nilai ketebalan.
- Prinsip Arus Eddy (Eddy Current): Digunakan untuk mengukur lapisan non-konduktif di atas logam non-ferrous seperti aluminium, tembaga, atau stainless steel. Probe menghasilkan medan elektromagnetik frekuensi tinggi yang menginduksi arus eddy pada substrat logam. Lapisan yang menutupi substrat akan memengaruhi arus eddy ini, dan perubahan tersebut diukur sebagai ketebalan.
Standar internasional seperti SSPC-PA 2 secara resmi mengklasifikasikan alat ukur ini menjadi dua tipe berdasarkan prinsipnya: Type 1 (magnetic pull-off gage) dan Type 2 (electronic gage) yang mencakup alat magnetik dan arus eddy elektronik 1]. Alat elektronik modern (Type 2) umumnya menawarkan akurasi hingga ±0.1 mm, tampilan digital, dan kemampuan penyimpanan data, menjadikannya pilihan utama untuk [quality control profesional.
Memilih Alat yang Tepat: Perbandingan Merek dan Spesifikasi untuk Pasar Indonesia
Memilih coating thickness gauge yang tepat bergantung pada aplikasi industri, anggaran, dan kebutuhan spesifik. Pertimbangan utama meliputi:
- Tipe Substrat: Apakah Anda bekerja dengan baja (perlu alat magnetik) atau aluminium/logam non-ferrous (perlu arus eddy)? Banyak model “dual” yang menggabungkan kedua fungsi.
- Rentang dan Akurasi: Pastikan rentang pengukuran alat mencakup ketebalan yang akan Anda inspeksi (misal: 0-2000 µm untuk otomotif, 0-5 mm untuk coating tebal konstruksi). Akurasi tinggi (±1-3% atau ±0.1 mm) sangat penting untuk inspeksi kritis.
- Kalibrasi dan Standar: Pilih alat yang memenuhi standar pengujian internasional seperti ASTM D7091 atau ISO 2808, dan dapat dikalibrasi secara traceable. Ini menjamin hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan teknis.
- Daya Tahan dan Dukungan: Untuk lingkungan lapangan yang keras di proyek konstruksi atau bengkel, ketahanan terhadap debu, kelembaban (rating IP), dan guncangan sangat penting. Dukungan purna jual dan ketersediaan layanan kalibrasi di Indonesia juga faktor penentu.
Beberapa merek terkemuka di pasar Indonesia antara lain Defelsko (AS) dan Elcometer (UK) yang dikenal dengan presisi dan keandalan tinggi, serta seri seperti HW300 PRO/MAX yang menawarkan fitur lengkap dengan garansi umum 1 tahun. Selalu beli dari distributor resmi atau autorized agent seperti PT. Graphic Control atau PT Yakin Maju Sentosa untuk memastikan keaslian produk dan dukungan teknis. Untuk konteks yang lebih luas tentang peran alat inspeksi dalam sistem manajemen proteksi coating, Anda dapat merujuk pada Guide to Protective Coatings Inspection and Maintenance yang diterbitkan oleh U.S. Bureau of Reclamation [2].
Standar dan Prosedur Quality Control Pengecatan yang Diakui Internasional
Kunci dari quality control yang konsisten dan dapat diaudit adalah penerapan standar prosedur yang diakui secara internasional. Tanpa kerangka kerja standar, hasil pengukuran dari inspektor yang berbeda atau waktu yang berbeda sulit dibandingkan dan dapat diperdebatkan. Dua standar utama yang menjadi pilar dalam industri adalah SSPC-PA 2 dan ISO 12944.
Artikel otoritatif dari SSPC: The Society for Protective Coatings menekankan bahwa standar SSPC-PA 2 mendefinisikan metodologi untuk mengukur ketebalan lapisan cat kering pada permukaan baja [1]. Sementara itu, dokumen teknis dari Sika, pemimpin global dalam bahan kimia konstruksi, menyatakan bahwa sejak 1998, proteksi korosi struktur baja telah diatur oleh standar internasional ISO 12944, yang diperbarui pada 2018 untuk mencerminkan temuan dan kebutuhan terkini [3]. Menerapkan standar-standar ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga tentang membangun kredibilitas dan memastikan keberterimaan hasil kerja pada proyek berskala nasional maupun internasional.
Untuk mendalami standar ini, sumber resmi seperti ISO 12944-5 Protective Paint Systems Standard dan penjelasan komprehensif di ISO 12944 Standards for Corrosion Protection sangat direkomendasikan.
Menerapkan SSPC-PA 2: Metodologi Inspeksi Ketebalan yang Konsisten
SSPC-PA 2 memberikan prosedur sistematis untuk inspeksi ketebalan lapisan. Penerapannya meliputi beberapa tahap kritis:
- Penentuan Titik Ukur (Measurement Points): Standar ini mengatur berapa banyak pengukuran yang harus dilakukan per area (misalnya, untuk setiap 10 m² atau 100 ft²). Pengambilan titik harus acak dan representatif, mencakup area datar, tepian, dan sambungan.
- Frekuensi dan Pencatatan: Inspeksi tidak dilakukan sekali saja. Pengecekan ketebalan harus dilakukan pada tahapan tertentu, seperti setelah aplikasi primer dan setelah top coat. Setiap hasil harus dicatat secara detail, termasuk lokasi dan identifikasi area.
- Teknik Pengambilan Data: SSPC-PA 2 merinci bagaimana alat harus dikalibrasi, diverifikasi, dan digunakan. Panduan ini membantu menghasilkan data yang konsisten.
Dokumen seperti SSPC Protective Coatings Quality Control Procedures dari New York Department of Transportation memberikan contoh nyata bagaimana prosedur ini diintegrasikan dalam spesifikasi kontrak konstruksi.
ISO 12944 dan Kaitannya dengan Ketebalan Coating untuk Proteksi Korosi
Sementara SSPC-PA 2 fokus pada “cara mengukur”, ISO 12944 menjawab “mengapa dan seberapa tebal”. Standar ini mengklasifikasikan lingkungan korosif menjadi kategori C1 (sangat rendah) hingga C5 (sangat tinggi) dan CX (ekstrim, seperti offshore). Setiap kategori memerlukan sistem pelapis dengan ketebalan film kering minimum yang berbeda untuk mencapai masa pakai yang diharapkan (biasanya >15 tahun).
Sebagai contoh, sebuah struktur baja di lingkungan perkotaan dengan polusi sedang (kategori C3) akan membutuhkan ketebalan total sistem pelapis yang berbeda dengan tangki penyimpanan di area pantai yang terkena cipratan air garam terus-menerus (kategori C5-M). Dengan memahami kategori lingkungan proyek Anda, Anda dapat menetapkan spesifikasi ketebalan target yang tepat dan melakukan quality control berdasarkan acuan yang valid.
Teknik Pengukuran Ketebalan Cat yang Akurat dan Benar
Kepemilikan alat yang canggih tidak menjamin hasil yang akurat. Faktor manusia dan prosedur operasional yang benar justru sangat menentukan. Kesalahan umum seperti menyeret probe pada permukaan, mengukur di area yang kotor atau berdebu, atau lupa mengompensasi ketebalan shim plastik dapat menghasilkan deviasi signifikan yang berujung pada penilaian kualitas yang salah.
Langkah-Langkah Penggunaan: Dari Kalibrasi Hingga Pembacaan
Sebelum pengukuran apa pun, tiga langkah mendasar yang didefinisikan dalam ASTM D7091—dan dikutip dalam artikel teknis dari Defelsko—harus dipenuhi: (1) Kalibrasi, (2) Verifikasi Akurasi, dan (3) Penyesuaian alat (jika diperlukan) [4]. Berikut prosedur lengkapnya:
- Persiapan Permukaan: Pastikan area yang akan diukur bersih, kering, dan bebas dari debu, minyak, atau karat. Pengukuran pada kontaminan akan tidak akurat.
- Verifikasi/Kalibrasi Awal: Sebelum memulai sesi pengukuran, verifikasi akurasi alat menggunakan calibration foil atau shim dengan ketebalan yang diketahui (misal, 50µm dan 100µm). Tempelkan shim pada substrat besi atau aluminium bersih (tanpa cat), lalu ukur. Nilai yang terbaca harus sesuai dengan ketebalan shim ± toleransi alat. Ini adalah “verifikasi di lapangan”, berbeda dengan kalibrasi formal tahunan.
- Teknik Penempatan Probe: Letakkan probe secara vertikal dan tegak lurus terhadap permukaan. Tekan dengan stabil hingga probe menyentuh permukaan dengan sempurna, lalu angkat lurus ke atas tanpa menyeretnya. Menyeret probe dapat menggores lapisan dan merusak ujung probe.
- Pembacaan dan Pencatatan: Baca nilai yang muncul pada display. Lakukan minimal 3-5 pengukuran pada titik yang berdekatan untuk mendapatkan nilai rata-rata yang representatif. Catat segera semua nilai, termasuk lokasi spesifiknya.
- Pengukuran pada Permukaan Sulit: Untuk permukaan lengkung, gunakan probe dengan ujung yang sesuai (radius kecil). Untuk area sempit, mungkin diperlukan probe khusus dengan ujung yang lebih kecil (mini probe).
Tips Maksimalkan Akurasi: Mengatasi Pengaruh Permukaan dan Lingkungan
Selain teknik, faktor lain yang perlu dikelola:
- Kekasaran Permukaan: Substrat yang sangat kasar (seperti setelah grit blasting) dapat menyebabkan variasi pembacaan. Ambil lebih banyak titik ukur dan gunakan nilai rata-rata.
- Suhu dan Kelembaban: Suhu ekstrim dapat mempengaruhi kinerja elektronik alat dan sifat material. Biarkan alat dan benda kerja beraklimatisasi ke suhu ruang pengukuran jika memungkinkan. Di iklim tropis Indonesia dengan kelembaban tinggi, simpan alat dalam dry box atau wadah kedap udara ketika tidak digunakan untuk mencegah kondensasi dan kerusakan sirkuit.
- Penggunaan Shim Plastik: Untuk melindungi permukaan cat halus (mobil baru) atau mengukur pada lapisan yang masih agak lunak, selipkan selembar shim plastik tipis yang bersih antara probe dan permukaan. Ingat: kurangkan ketebalan shim dari hasil pembacaan total. Misal, shim 50µm, pembacaan 180µm, maka ketebalan cat sebenarnya adalah ~130µm.
Interpretasi Hasil dan Database Standar Ketebalan
Setelah data ketebalan diperoleh, langkah berikutnya yang kritis adalah interpretasi. Apakah hasil tersebut “baik” atau “gagal”? Ini memerlukan pembandingan dengan spesifikasi atau standar referensi yang sesuai.
Tabel Referensi: Standar Ketebalan Cat untuk Otomotif, Konstruksi, dan Industri
Berikut adalah panduan umum ketebalan lapisan cat untuk berbagai aplikasi. Penting: Spesifikasi pasti harus selalu merujuk pada rekomendasi produsen cat atau standar kontrak proyek.
| Aplikasi / Lapisan | Rentang Ketebalan Kering (DFT) Umum | Catatan |
|---|---|---|
| Cat Mobil Baru (Pabrikan) | 80 – 120 µm | Berfungsi sebagai baseline untuk inspeksi mobil bekas. |
| Clear Coat (Mobil) | 30 – 50 µm | Lapisan transparan paling atas untuk kilau dan proteksi. |
| Cat Stoving / Oven | 35 – 55 µm | Digunakan pada komponen mesin, peralatan rumah tangga. |
| Sistem Cat Epoxy untuk Konstruksi Baja (C3-C4) | 120 – 300 µm per lapisan | Bergantung pada sistem (primer + intermediate + top coat) dan kategori lingkungan ISO 12944. |
| Cat Zinc-Rich Primer | 50 – 100 µm | Berfungsi sebagai lapisan dasar proteksi katodik. |
Mendeteksi Masalah: Apa Arti dari Ketebalan Tidak Merata atau Di Luar Spesifikasi?
Variasi ketebalan adalah indikator penting:
- Ketebalan Sangat Tinggi pada Satu Panel Mobil (misal, >180µm): Sangat mungkin mengindikasikan adanya lapisan dempul (body filler) dan cat ulang akibat perbaikan kecelakaan. Pola ketebalan yang tidak wajar antar panel (misal, kap mesin 150µm, pintu 110µm) adalah “red flag”.
- Ketebalan di Bawah Spesifikasi Minimum: Menandakan aplikasi cat yang terlalu tipis, yang akan mengorbankan daya tutup, kilau, dan—yang paling kritis—perlindungan terhadap korosi. Pada proyek konstruksi, ini dapat menyebabkan kegagalan prematur dan biaya perbaikan yang besar.
- Variasi yang Sangat Besar dalam Area Kecil: Dapat menunjukkan teknik aplikasi yang buruk (seperti penyemprotan yang tidak konsisten) atau kondisi permukaan yang tidak merata.
Membangun database internal untuk merek dan model mobil populer di Indonesia atau ketebalan standar produk manufaktur Anda sendiri adalah praktik terbaik yang mengisi content gap dan meningkatkan keunggulan kompetitif tim quality control Anda. Dokumentasi yang baik, seperti yang diilustrasikan dalam Guide to Protective Coatings Inspection and Maintenance, adalah kunci untuk audit dan perbaikan berkelanjutan [2].
Pemeliharaan, Kalibrasi, dan Troubleshooting untuk Keandalan Alat
Agar coating thickness gauge tetap menjadi aset yang dapat diandalkan, perawatan yang konsisten dan kalibrasi yang terjadwal adalah keharusan. Banyak ketidakakuratan bersumber dari alat yang tidak terawat atau telah kehilangan akurasinya seiring waktu.
Prosedur Kalibrasi dan Verifikasi Akurasi yang Benar
Pahami perbedaan mendasar:
- Kalibrasi (Calibration): Seperti dijelaskan David Beamish dari Defelsko dengan mengutip ASTM D7091, kalibrasi adalah “proses tingkat tinggi, terkontrol, dan terdokumentasi untuk mendapatkan pengukuran pada standar kalibrasi yang dapat ditelusuri (traceable) di seluruh rentang operasi alat, kemudian melakukan penyesuaian alat (jika diperlukan) untuk memperbaiki kondisi yang tidak sesuai toleransi” [4]. Proses ini biasanya dilakukan setahun sekali oleh produsen alat, agen resmi, atau laboratorium kalibrasi terakreditasi (berstandar ISO/IEC 17025). Ini adalah kebutuhan formal untuk menjaga validitas sertifikat alat.
- Verifikasi Akurasi (Accuracy Verification): Ini adalah pengecekan rutin harian atau mingguan yang dilakukan oleh pengguna di lapangan menggunakan calibration foil/shims. Tujuannya adalah memastikan alat masih membaca dengan benar pada satu atau dua titik ketebalan sebelum memulai pekerjaan. Jika hasil verifikasi di luar toleransi, alat perlu dikirim untuk kalibrasi ulang.
Panduan Pemeliharaan Rutin dan Troubleshooting Masalah Umum
Pemeliharaan Preventif:
- Bersihkan Probe: Setelah penggunaan, bersihkan ujung probe dengan kain lembut dan bebas serat. Kotoran yang menempel dapat mempengaruhi pengukuran.
- Hindari Guncangan dan Jatuh: Alat ini berisi komponen elektronik dan sensor presisi. Gunakan tas pelindung saat dibawa.
- Penyimpanan: Simpan di tempat kering dan sejuk. Untuk iklim tropis Indonesia, penyimpanan dalam wadah dengan silika gel sangat dianjurkan untuk mengontrol kelembaban.
- Baterai: Ganti baterai secara berkala atau sebelum benar-benar habis untuk menghindari pembacaan yang melayang atau kerusakan data.
Troubleshooting Umum:
- Pembacaan “0” atau Tidak Stabil: Periksa dan bersihkan probe. Pastikan baterai masih bagus. Pastikan Anda memilih mode pengukuran yang tepat (Ferrous/Non-Ferrous).
- Pembacaan Terlalu Tinggi/Rendah secara Konsisten: Lakukan verifikasi akurasi dengan shim. Jika masih salah, alat perlu dikalibrasi ulang.
- Error Kode: Konsultasikan manual pengguna. Seringkali terkait dengan probe rusak atau kesalahan internal yang memerlukan servis.
- Probe Tidak Merespons: Periksa koneksi probe (untuk model dengan probe terpisah). Kemungkinan kabel atau probe itu sendiri rusak.
Aplikasi Praktis dan Studi Kasus di Industri Indonesia
Teori dan prosedur baru bermakna ketika diterapkan pada tantangan nyata. Mari lihat bagaimana integrasi alat, teknik, dan standar bekerja dalam dua skenario umum di Indonesia.
Quality Control di Industri Otomotif: Inspeksi Mobil Baru dan Bekas
Skenario: Sebuah dealer mobil bekas terkemuka ingin memastikan kualitas kendaraan yang dijual dan mendeteksi riwayat perbaikan bodi yang tidak diungkapkan.
- Penerapan: Inspektur menggunakan coating thickness gauge dual (magnetik/arus eddy) untuk mengukur semua panel bodi eksterior: atap, kap mesin, pintu, pillar A/B/C, dan bagasi.
- Analisis: Nilai baseline untuk mobil merek tertentu adalah 90-110µm (berdasarkan database internal). Inspektur menemukan kap mesin menunjukkan rata-rata 165µm, sementara panel lainnya berkisar 95-105µm.
- Interpretasi & Tindakan: Ketebalan yang signifikan lebih tinggi pada kap mesin sangat mengindikasikan pengecatan ulang. Dealer dapat menggunakan data objektif ini untuk menegosiasikan harga dengan supplier, atau secara transparan menginformasikan kepada calon pembeli. Ini melindungi reputasi bisnis dan meminimalkan risiko komplain.
Penerapan pada Proyek Konstruksi dan Manufaktur Berbasis Logam
Skenario: Sebuah kontraktor bertanggung jawab atas pelapisan struktur baja untuk gedung perkantoran di Jakarta (lingkungan korosif kategori C3 menurut ISO 12944) dan tangki penyimpanan di area industri pesisir (kategori C5-M).
- Penerapan: Tim QC menerapkan SSPC-PA 2. Mereka menetapkan grid pengukuran untuk setiap komponen struktur. Setelah aplikasi primer zinc-rich, mereka mengukur DFT untuk memastikan ketebalan minimum 75µm terpenuhi sebelum aplikasi intermediate coat. Proses diulang setelah top coat untuk memverifikasi ketebalan total sistem mencapai 280µm seperti yang disyaratkan spesifikasi untuk lingkungan C5-M.
- Analisis: Pada tangki pesisir, ditemukan beberapa titik di area sambungan las yang ketebalannya hanya 200µm.
- Interpretasi & Tindakan: Area tersebut gagal memenuhi spesifikasi kontrak dan standar ISO 12944 untuk lingkungan C5-M, yang berisiko menyebabkan korosi titik awal. Tim mencatatnya dalam inspection report dengan foto dan koordinat, lalu menginstruksikan kontraktor aplikator untuk melakukan reparasi (spot repair) hingga ketebalan yang disyaratkan. Pendekatan sistematis ini memastikan masa pakai aset dan kepatuhan kontrak.
Kesimpulan
Coating thickness gauge jauh lebih dari sekadar alat ukur; ia adalah fondasi dari sistem quality control pengecatan yang objektif, dapat diandalkan, dan berbasis standar. Keakuratan hasilnya, yang berdampak langsung pada keputusan bisnis dan umur pakai aset, bergantung pada tiga pilar: pemahaman prinsip kerja dan pemilihan alat yang tepat, penerapan teknik pengukuran dan prosedur standar (SSPC-PA 2, ISO 12944) yang benar, serta komitmen pada pemeliharaan dan kalibrasi rutin.
Panduan definitif ini telah mengintegrasikan standar internasional dengan konteks praktis dan tantangan spesifik di berbagai industri Indonesia, dari otomotif hingga konstruksi berat. Dengan mengadopsi kerangka kerja yang sistematis ini, perusahaan dapat meningkatkan konsistensi kualitas, mencegah kegagalan dini yang mahal, mengoptimalkan penggunaan material, dan yang terpenting, membangun reputasi sebagai penyedia jasa atau produk yang berkualitas dan profesional.
Langkah Selanjutnya untuk Perusahaan Anda
Menerapkan sistem quality control yang kuat memerlukan peralatan yang andal dan pemahaman yang mendalam. CV. Java Multi Mandiri, sebagai supplier dan distributor instrumentasi ukur dan uji terpercaya, siap menjadi mitra bisnis Anda. Kami menyediakan coating thickness gauge dari merek-merek terpercaya dengan dukungan teknis dan konsultasi untuk memastikan Anda memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional dan industri perusahaan Anda.
Kami berkomitmen membantu bisnis dan industri Indonesia mengoptimalkan proses mereka melalui peralatan yang presisi. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik tim quality control perusahaan Anda dan mencari solusi terukur, jangan ragu menghubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bertujuan untuk edukasi dan panduan umum. Untuk aplikasi spesifik, prosedur pengujian kritis, atau kepatuhan kontrak, selalu konsultasikan dengan ahli terkait, inspektor bersertifikasi, dan merujuk pada dokumen standar resmi terbaru.
Rekomendasi Coating Thickness Gauge
Coating Thickness Gauge
Referensi
- SSPC: The Society for Protective Coatings. (N.D.). SSPC-PA 2 Basics. SSPC/NACE. Retrieved from https://www.naylornetwork.com/sspc-nwl/articles/index.asp?aid=481274&issueID=61851
- U.S. Bureau of Reclamation. (2012). Guide to Protective Coatings, Inspection, and Maintenance. Technical Service Center. Retrieved from https://www.usbr.gov/tsc/techreferences/mands/mands-pdfs/GuideToProtectiveCoatingsInspectionMaintenance2012_508.pdf
- Sika AG. (N.D.). Corrosion protective coatings for steel structures. Sika Services AG. Retrieved from https://grc.sika.com/dms/getdocument.get/f61df5f9-4e0a-41d5-8a00-a49b83eb65a4/Corrosion%20protective%20coatings%20for%20steel%20structures.pdf
- Beamish, D. (N.D.). How to Ensure Accurate Dry Film Thickness Readings. Journal of Protective Coatings & Linings (JPCL). Retrieved from https://www.defelsko.com/resources/how-to-ensure-accurate-dry-film-thickness-readings



